
batampos.co.id – Dalam beberapa kali pelaksanaan pemilu, partisipasi pemilih di Batam selalu rendah. Hal itu menempatkan Kota Batam menjadi daerah dengan partisipasi pemilih terendah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
“Partisipasi pemilihnya pada Pilkada 2015 dan Pileg 2014 menjadi catatan nasional. Batam jadi yang terendah partisipasi pemilihnya,” ungkap Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kepri, Widiyono Agung di Batam, Kamis (4/4).
Agung yang juga Koordinator Wilayah Batam, Pada pileg 2014 lalu, dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sekitar 715.544 orang, hanya sekitar 450.269 pemilih atau 62.93 persen yang menggunakan hak pilihnya.
Sedangkan pada pilpres 2014 lalu, hanya 406.153 pemilih yang memberikan hak suaranya dari 752.903 pemilih di DPT yang ada.
Sementara pada pilkada 2015, hanya 297.298 pemilih atau 47.11 persen yang menggunakan hak pilih dari 631.457 pemilih di DPT kota Batam.
Kondisi ini dinilai cukup memprihatinkan. Terlebih sebanyak sekitar 63 persen penduduk Kepri mayoritasnya tinggal di Batam. Sehingga, keberhasilan pemilu di Batam sangat mempengaruhi penyelenggaraan Pemilu di Kepri.
“Pilpres 2014 itu kita nomor dua terendah di Indonesia setelah Medan. Maka pada 17 April nanti, Batam harus memenuhi target nasional partisipasi pemilih sebesar 77.5 persen partisipan,” ujar Agung.
Untuk mendukung upaya peningkatan partisipasi tersebut, KPU Kepri juga terus mendukung berbagai langkah sosialisasi dan edukasi yang dilakukan jajaran KPU Batam. Upaya tersebut, demi mendorong partisipasi pemilih.
Ketua KPU Batam, Syahrul Huda sendiri mengungkapkan, pihaknya akan terus menggenjot partisipasi masyarakat pada pelaksanaan pemilu 2019.
KPU Batam, katanya, telah melakukan banyak sosialisasi di berbagai tempat. Sosialisasi tersebut dilakukan dengan cara yang berbeda, sesuai dengan sasaran massa yang mereka temui.
“Harapan kita, masyarakat sadar akan pentingnya keikutsertaan dalam kesuksesan pemilu serentak 2019,” tandas Syahrul. (*)
