batampos.co.id – Sampah masih jadi persoalan serius di wilayah Batuaji. Banyak drainase yang tersumbat karena sampah yang dibuang tidak pada tempatnya.
Drainase induk yang membentang antara ruko Genta I dan ruko Limanda, pinggir jalan R Suprapto, Batuaji misalkan dipenuhi dengan tumpukan sampah.
Sampah-sampah yang menyumbat jalur penyebrang air atau gorong-gorong ini tidak saja sampah rumah tangga tapi juga sampah medis.
Satuan tugas (Satgas) pemantau drainase dari Dinas Lingkungan Hidup yang membersihkan tumpukan sampah tersebut, Kamis (4/4/2019) pagi menjumpai banyak sampah medis di drainase tersebut.
Sampah medis ini beragam mulai dari benang, botol obatan hingga jarum suntik dan lain sebagainya.
“Kebanyakan memang sampah rumah tangga, tapi sampah medis juga cukup banyak,” ujar Ali, seorang dari Satgas Drainase yang dijumpai di lokasi drainase yang bermasalah tersebut.
Sampah-sampah medis ini diakui Ali sangat berbahaya sebab tidak saja merusak sistem drainase tapi juga mengancam kesehatan lingkungan sekitar sebab bisa menimbulkan penyakit. Mereka yang bekerja membersihkan sampah itu sudah merasakan dampaknya. Meskipun mengenakan alat pengaman (savety), sampah medis ini bisa menimbulkan gatal-gatal jika bersentuhan dengan kulit tubuh mereka.
“Kalau sampah rumah tangga masih mending paling baunya saja. Tapi kalau sampah medis gatal-gatal kalau kena kulit,” katanya.

Sampah seperti ini kata Ali, memang jarang dijumpai sebab tidak seharusnya buang ke sembarangan tempat. Sampah medis ini umumnya dijumpai di drainase-drainase yang berdekatan dengan rumah layanan kesehatan baik rumah sakit ataupun klinik.
“Tak menuduh siapapun yang buang tapi biasannya kalau dekat klinik atau rumah sakit memang banyak sampah medis. Padahal tak seharusnya sebab sampah medis harus dibuang ke tempat pengilahan limbah,” ujar Ali.
Pantauan Batam Pos di lapangan, lokasi drainase yang sedang dikerjakan oleh satgas drainase tadi banyak dijumpai sampah medis. Sampah-sampah ini diduga terbawa arus air saat hujan beberapa hari yang lalu. Sumber sampah bisa dari mana saja sebab saluran drainase induk yang tersumbat sampah ini merupakan muara dari berbagai drainase lingkungan di kelurahan Buliang, Batuaji.
Sanusi warga setempat menuturkan, setiap hujan jalur penyebrangan air itu selalu bermasalah. Sampah-sampah dari berbagai pemukiman warga bertumpuk di lokasi yang sama. Tumpukan terjadi lantaran gorong-gorong yang menjadi jalur penyebrangan air sebelumnya memang sudah tak berfungsi normal. Semak belukar hingga endapan tanah membuat gorong-gorong sempit dan dangkal sehingga saat hujan datang, material sampah yang terbawa arus tidak bisa melewati lokasi gorong-gorong tadi.
“Umumnya seperti itu (penyebab tersumbat). Tapi ini yang paling parah karena parit besar dari berbagai perumahan. Semua sampah mengalir ke sini,” kata Sanusi. (eja)
