
batampos.co.id – Tiket yang dijanjikan akan turun. Namun kenyataannya tidak ada penurunan. Harga tiket saat peak season tahun ini, tidak sama seperti tahun lalu.
Akibat harga tiket yang cukup tinggi ini, menyebabkan dampak di sektor pariwisata Batam.
Ketua ASITA Kepri, Andika Lim membenarkan tidak adanya penurunan harga tiket untuk rute tujuan atau dari Batam.
“Tiket turun, katanya kan. Tapi memang tidak ada penurunan,” katanya, Kamis (4/4).
Ia mengatakan dampak kenaikan harga tiket domestik ini, cukup memukur pariwisata Batam, maupun Kepri. Tidak ada lagi paket-paket wisata domestik tujuan Kepri, dijual beberapa agen travel. Para agen travel, masih menunggu dan melihat perkembangan situasi harga tiket.
“Semuanya itu wait and see. Belum ada yang berani bergerak, karena harga tiket,” ungkapnya.
Andika mengatakan dari laporan yang diterimanya dari beberapa palaku pariwisata, penurunan wisatawan domestik sekitar 50 hingga 60 persen. Dan hal ini telah berlangsung dari Januari tahun ini hingga sekarang.
“Semuanya dapat melihat, tidak ada rombongan wistawan domestik di Batam. Kalaupun ada, mereka datang karena urusan pribadi yang bersifat urgen. Atau urusan kantor maupun kegiatan acara perusahaan di Batam,” tuturnya.
Ia mengatakan ASITA Kepri biasanya mengharapkan pemasukan dari kunjungan domestik di Senin hingga Kamis. Lalu di Sabtu dan Minggu, pelaku pariwisata bisa mengharapkan kunjungan dari wisatawan mancangera.
“Tapi kini sektor domestik tidak lagi mendukung. Banyak yang mengalami kemunduran akibat ini, hotel, UKM, dan beberapa sektor pariwisata lainnya,” ucapnya.
Terkait tindakan ASITA atas kenaikan harga tiket ini. Andika mengaku pelaku pariwisata sudah melakukan berbagai cara, mulai dari protes langsung ke kementerian, hingga melakukan demo.
“Tapi harga tiket tidak bergeming, masih segitu-gitu juga,” ujarnya.
Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam, Muhammad Mansyur mengaku harga tiket, berdampak terhadap tingkat hunian hotel di Batam. Ia mengatakan sejak awal Januari hingga kini, tingkat hunian hotel turun hingga 30 persen.
“Setiap hari seperti itu,” ujarnya.
Ia memperkirakan tingkat hunian hotel ini akan semakin turun, jelang puasa hingga lebaran.
“Masyarakat akan semakin berfikir lagi (untuk menuju Batam),” ungkapnya.
Mansyur mengungkapkan dari beberapa tamu hotelnya cukup berfikir untuk mengurangi biaya kepulangan. Dan kebanyakan mereka, kata Mansyur memilih rute alternatif dengan memilih pulang melalui Singapura.
“Tiket Batam ke Medan itu masih sekitar Rp 1,4 juta. Apabila lewat Singapura, mereka membayar sekitar Rp 500ribuan. Ditambah biaya perjalanan kapal one way, cukup hemat mereka kembali ke Medan melalui Singapura,” tuturnya.
“Jadi tak usah memikirkan yang datang. Karena yang sudah berada di Batam, berpikir untuk pulang,” ungkapnya.
Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), kata Mansyur sedikit menolong operasional hotel di Batam. Namun, kebanyakan MICE berasal dari pemerintah dan perusahaan lokal.
“Kalau dari luar negeri, jarang. Saat ini tingkat hunian itu sekitar 40 persen saja, kalaupun lebih karena dibantu oleh adanya MICE atau kegiatan perusahaan,” ucapnya. (ska)
