Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo menjanjikan akan membangun Jembatan Batam-Bintan (Babin).

Jokowi yang menggelar kampanye dalam kapasitasnya sebagai calon presiden (capres) menjanjikan tiga hal. Pertama sertifikasi KamĀ­pung Tua paling lama tiga bulan, pemĀ­bangunan Jembatan Babin, dan tiga kartu sakti: Kartu Pra-kerja, KIP Kuliah, dan Sembako Murah.

Loading...

Pada kesempatan kali ini, saya lebih tertarik dengan janji kedua. Pembangunan Jembatan Babin. Jika benar-benar menjalankan komitmen tersebut, jembatan itu akan menjadi megaproyek prestisius. Bahkan bisa membuat negara-negara ASEAN iri.

Khusus Jembatan Babin, Jokowi menjanjikan akan menurunkan tim minggu ini untuk mengecek. Kemudian, Desain Teknis Rinci (Detailed Engineering Design/DED) segera dibuat.

Dengan panjang sekitar 7 kilometer, dan investasi mencapai Rp 4 triliun, rekor Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 kilometer akan pecah. Gelar jembatan terpanjang di Indonesia pun akan menjadi milik Kepri.

Di balik soal prestise, Jembatan Babin diharapkan mampu menumbuhkan perekonomian Kepri. Investor pun punya banyak pilihan untuk berinvestasi lantaran mobilisasi barang di kawasan Free Trade Zone (FTZ) menjadi lebih mudah.

Banyak pakar yang mengkajinya. Saya pikir sebagian besar berpikiran positif. Kepri yang berbatasan langsung dengan negara-negara ASEAN harus punya kebanggaan. Punya perangkat untuk bersaing dalam rangka menarik investor. Jomplangnya kondisi di Pulau Batam dengan Pulau Bintan sangat terlihat. Hal paling terlihat adalah Upah Minimum Kota (UMK) yang ibarat bumi dan langit. Pembangunan juga beda.

Meskipun sama-sama berstatus kawasan FTZ, saat ini akses dari dan menuju Batam-Bintan hanya bisa dilalui lewat laut. Menggunakan kapal. Biayanya besar. Risiko juga besar. Sementara jika lewat darat (melalui jembatan), biaya menjadi makin murah.

Selama ini, yang “mengatur” pertumbuhan ekonomi Kepri adalah Batam. Situasi Batam berpengaruh besar terhadap provinsi ini. Tidak ada salahnya jika “dibagi”. Sehingga ketika ekonomi Batam rontok, kabupaten/kota lain bisa menutupi.

Semoga bukan sekadar janji politis. Karena wacana Jembatan Babin sudah lama jadi bahan kampanye sejak lebih dari satu dekade silam. Berkali-kali jadi “Jembatan Politis” untuk meraup suara dari masyarakat Kepri.

Perlu tahu saja, sejak saya masih bekerja di Kaltim, wacana pembangunan jembatan terpanjang di Indonesia yang akan dibangun di Kepri sudah nyaring terdengar. Eh, tiba di Batam Juli 2017 lalu ternyata jembatannya tidak ada.

Semoga rencana pembangunan Jembatan Babin tidak terkait unsur politis. Apalagi tanggal 17 April 2019 waktunya mencoblos. Jika hanya janji politis, siapapun pemenangnya, pasti hanya tinggal kenangan. Harapan saya, entah Jokowi atau Prabowo Subianto yang menang pemilihan presiden (pilpres) nanti, Jembatan Babin benar-benar dibangun. Menjadi jembatan kebanggaan Kepri dan Indonesia. (*)

Loading...