
F. Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Warga Sekupang terancam kekura-ngan suplai air bersih dalam sebulan ke depan. Pasalnya, hujan jarang turun sehingga menyebabkan Waduk Seiharapan mengalami penyusutan yang parah sehingga tidak memberi harapan lagi.
”Nanti bukan warga Tanjunguncang saja yang akan sulit air. Warga Sekupang danTiban juga akan digilir. Curah hujan saja saat ini masih 125 mili-meter, masih jauh dari target setahun karena hujan jarang turun,” papar Presiden Direktur (Presdir) PT ATB Benny Andrianto, Selasa (9/4) malam.
Untuk mengisi waduk-waduk di Batam hingga batas normal, butuh curah hujan setahun sekitar 2.000 milimeter. ”Dan dalam tiga bulan harus dapat 10 persen. Tapi hujan tak kunjung turun,” paparnya.
Makanya, ia memperkirakan bulan depan, Sekupang akan kesulitan air. ”Sebulan lagi di Waduk Seiharapan akan menyusut. Jadi, sekarang mari berupaya hemat air. Karena Batam itu lebih boros dari Singapura dalam penggunaan air,” ujarnya.
Mengenai penyurutan waduk, BP Batam merilis bahwa tingkat penyurutan di Waduk Seiharapan mencapai 184 sentimeter pada 22 Maret lalu dari 126 sentimeter pada awal Maret lalu.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pengelolaan Waduk BP Batam Hadjad Widagdo mengatakan, persoalan Dam Seiharapan telah menjadi atensi dari Ketua Dewan Kawasan (DK) Darmin Nasution yang juga Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian.
Menurut Hadjad, Waduk Seiharapan mengalami kerusakan karena sejumlah faktor baik disebabkan karena alam maupun karena ulah manusia. Dari faktor alam selain karena hujan tak kunjung turun juga karena sedimentasi.
”Sedimentasi di waduk tersebut diperkirakan sudah mencapai 8.000 meter kubik,” ucapnya.
Akibatnya tingkat elevasi di waduk tersebut sudah turun dibawah minus 2,7 meter. Padahal secara normal, batas pengambilan air dari waduk yakni minus lima meter. Sa-yangnya meski kondisinya sudah sangat kritis, BP Batam masih menunggu dana dari Bank Dunia untuk memulai pengerukan di waduk tersebut. Dananya diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Sedangkan dari faktor ulah manusia, BP Batam seakan tidak berdaya untuk mencegah aksi pembakaran hutan di sekitar waduk. Ditambah lagi banyaknya kegiatan ilegal lain seperti perkebunan liar, ke-ramba jaring apung, pemasangan bubu dan kelong.
Untuk solusi jangka pendek, Menko Darmin sudah meng-instruksikan agar BP Batam melakukan normalisasi. Sehingga BP Batam akan bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera IV, Kementerian PUPR, Dinas Kehutanan Provinsi Kepri dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk melaksanakan normalisasi di Waduk Seiharapan yang tengah kritis tersebut. (leo)
