Sri Rismawati kini terbaring lemah di rumahnya di rumah susun Buana Indah 2, Sagulung, Batam, Kepulauan Riau. Sejak setahun lalu, Sri divonis mengidap Dispagia Saraf 16 dan Myastheria Gravis. Penyakit ini merupakan gangguan saraf dan otot menelan, yang mengakibatkan Sri tak dapat menelan cairan ataupun makanan yang ada di mulutnya.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi, Sri dibantu selang untuk memasukkan cairan pengganti makanan ke dalam tubuhnya. Selang masuk melalui hidung Sri dan berujung di lambungnya. Selain cairan pengganti makanan, selang itu juga mengalirkan air mineral steril serta susu khusus ke tubuh Sri.



Intan Komalasari dari tim Mobile Social Rescue-Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang sudah mendampingi Sri sejak awal Maret lalu mengatakan, setiap dua pekan sekali Sri harus mengganti selang yang terpasang di tubuhnya itu. Sedangkan per tiga hari suntikan untuk memasukan makanan ke selang juga harus diganti.

“Susu dan air mineral satu-satunya asupan gizi Sri,” jelas Intan, Rabu (10/4).

Kondisi Sri dapat menurut sewaktu-waktu, tak jarang ibu lima anak ini mendadak pingsan. Saat kondisinya mulai dirasa kurang baik, Sri lekas ke dokter yang ada di Ruamh Sakit Umum Daerah Embung Fatimah Batam. Biaya pengobatan perempuan 42 tahun itu ditanggung oleh jaminan kesehatan dari pemerintah. Akan tetapi untuk susu, selang serta suntikan sebagai alat Sri mengalirkan gizi ke tubuhnya tidak dikover oleh BPJS.

Sejak awal Maret lalu, MSR-ACT melakukan pendampingan medis terhadap Sri. Biaya yang tak terkover BPJS dipenuhi MSR. “Untuk susu, penggantian selang dan suntikan secara rutin kami kover, tim MSR melakukan pendampingan terhadap medis Sri,” tambah Intan.

Untuk selang yang diganti tiap dua pekan sekali, Sri harus merogoh kocek 120 ribu rupiah. Kemudian harga suntikan yang perlu penggantian per tiga hari seharga 20 ribu rupiah.

Sedangkan untuk susu guna kebutuhan nutrisi Sri seharga 300 ribu rupiah per kilogramnya.

Kendala perekonomian keluarga yang berada dalam kondisi prasejahtera membuat Sri bertahan dengan selang. Ridwan (47) sang suami bekerja serabutan.

Tak menentu penghasilannya. Kini Ridwan bekerja di bengkel dekat rumahnya. Ketika Sri mendadak menurun kondisi kesehatannya, Ridwan tak dapat menemani ke RSUD Embung Fatimah, membuat Sri harus beristirahat di rumah tanpa pendampingan dari dokter.

Kondisi ekonomi ini juga yang membuat pendidikan kelima anak pasangan Sri dan Ridwan terkendala. Anak pertama dan kedua Sri yang saat ini sudah berumur 21 dan 15 tahun terpaksa putus sekolah. Sedangkan anak ketiga Sri dan Ridwan yang saat ini berusia 12 tahun sedang mengenyam pendidikan dengan biaya yang ditanggung oleh salah seorang kerabatnya. Akan tetapi, anak keempat dan bungsu mereka yang kini sudah menginjak umur 10 dan 8 tahun sama sekali belum pernah mencicipi bangku pendidikan formal.

Kini, tim MSR sedang melakukan penggalangan dana secara daring melalui www.kitabisa.com/bantusribertahan. Penggalangan dana ini nantinya akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan Sri serta pengobatannya. Selain itu, dana donasi itu akan digunakan untuk pembiayaan pendidikan kelima anak Sri.

“Sejak Senin (8/4) kemarin hingga 89 hari ke depan donasi kami buka di Kitabisa,” kata Intan. [*]

Loading...