batampos.co.id – Para pelaku industri pariwisata di Batam meminta pemerintah daerah serius mengantisipasi kasus pencemaran pantai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) jenis minyak hitam atau sludge oil. Sebab kasus ini terus terulang setiap tahun dan dipastikan akan sangat mengganggu sektor pariwisata.

Seperti yang terjadi di sepanjang garis pantai di wilayah Nongsa, Batam, Rabu (10/4).

Berton-ton limbah oli memadati pantai di wilayah tersebut. Tak terkecuali di kawasan Turi Beach Resort, Nongsa, Batam.

Resident Manager Turi Beach Resort, Ahmad Raja, mengaku, kasus limbah minyak hitam ini memang sering terjadi. Tahun ini saja sudah tiga kali terjadi. Yakni pada Februari, Maret, dan April ini.

“Untuk limbah kali ini, baru datang Selasa (9/4/2019) lalu. Dan cukup parah bila dibandingkan dengan kejadian Februari lalu,” kata Ahmad, Rabu (10/4/2019).

Meski begitu, ia menyebut sejauh ini belum ada komplain dari para tamu yang menginap di Turi Beach Resort. Namun, pengalaman dari kejadian sebelumnya, biasanya para turis akan protes karena pantai di area resort tersebut dikotori limbah.

“Sekarang zaman serba digital. Apabila ini di-posting turis di media sosial mereka, dampaknya sangat besar terhadap Batam. Bakal mengurangi jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke sini,” tuturnya.

Ahmad berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini.
Karena, apabila dibiarkan terus menerus, masalah ini bisa menjadi ancaman serius bagi industri pariwisata di Batam.

Bahar, karyawan Turi Beach Resort, mengatakan, banyak-nya limbah minyak hitam ini membuat para tamu Turi Beach enggan bermain di area pantai. Sebab selain baunya tidak sedap, limbah tersebut juga bisa membuat iritasi pada kulit.

“Jadi pada gak mau ke pantai. Baunya juga cukup menyengat,” kata Bahar.

Sementara petugas Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang Satuan Kerja (Satker) Tanjungpinang turun langsung mengecek keberadaan limbah tersebut, Rabu (10/4). Seorang staf BPSPL, Rika, mengaku sejauh ini kehadiran limbah tersebut belum menimbulkan dampak kerusakan atau gangguan pada biota laut.

foto: batampos.co.id / cecep mulyana

“Kalau tahun lalu ada satu ekor duyung yang mati terdampar di Nongsa akibat limbah ini,” tuturnya.

Temuan ini, kata Rika, akan dilaporkan ke atasannya. Serta nantinya berkoordinasi dengan instansi yang berwenang untuk mengamankan jalur perairan internasional dari aksi pembuangan limbah.

“Untuk memastikan sumber limbah ini, kami akan berkoordinasi dengan pihak yang terkait,” ucapnya.

Lapor Menko Maritim

Sementara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam langsung mengambil sampel tumpahan minyak yang mencemari laut di Turi Beach Resort, Rabu (10/4).

Kepala DLH Batam Herman Rozie mengatakan, sedikitnya ada 20 petugas yang dikerah-kan. Secara bertahap petugas membersihkan tumpahan minyak dari bibir pantai.

“Tumpahan oli berasal dari kapal yang ada di laut. Kami lagi telusuri,” kata dia.

Kemarin, petugas DLH berhasil mengumpulkan 150 karung limbah dari pantai Nongsa Village dan 45 karung dari pantai Turi Beach. Proses sudah dihentikan karena air mulai surut. Proses pembersihan rencananya akan dilan-jutkan hari ini, Kamis (11/4).

Selanjutnya, temuan ini akan dilaporkan kepada Gubernur Kepri melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kepri untuk ditindak-lanjuti. Menurutnya, kewenangan penanganan persoalan ini berada di bawah pemerintah provinsi.

“Anggaran penanganan tidak ada di kami. Jadi kami akan minta bantuan kepada provinsi karena mereka yang punya kewenangan laut,” terang Herman.

Ia menambahkan, kejadian seperti ini merupakan musiman. Berbagai upaya sudah dilakukan di tingkat pusat. Pihaknya juga sudah menyam-paikan permasalahan ini kepada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

“Pembahasan sudah sering dilakukan. Saat ini tengah disusun SOP penanggulangan maupun pencegahan termasuk upaya tangkap tangan kapal-kapal yang membuang limbah ke laut,” bebernya.

Menurutnya, diperlukan langkah tegas agar hal ini bisa dicegah. Sehingga laut Batam tidak lagi tercemari limbah oli bekas. Berdasarkan surat yang diterima DLH Batam, pembahasan SOP paling lambat hingga tanggal 5 April 2019 ini.

“Sekarang belum ada panggilan lagi dari pusat terkait apa saja aturan mengenai penanggulangan tumpahan minyak di laut ini,” tutupnya.

Terpisah, KRI Siwar mengamankan kapal MV Vox Maxi-ma berbendera Belanda di Perairan Galang, Senin (8/4) lalu. Kapal itu diduga membuang limbah. Namun dari hasil penyelidikan sementara, pihak TNI AL belum bisa memastikan yang dibuang tersebut limbah.

“Kami belum bisa menyatakan itu limbah atau tidak, karena masih dalam pemeriksaan,” kata Danlantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama (Laksma) TNI Arsyad Abdullah, Rabu (10/4).

Ia mengatakan bentuk cairan yang dibuang oleh kapal asing tersebut cukup bening. Namun, terdapat noda kekuning-kuningan. “Kalau hitam bisa dipastikan (itu limbah). Tapi masalahnya yang dibuang warnanya hampir bening,” ungkapnya. (ska)