Akhirnya masa itu datang juga. Hari pencoblosan telah tiba.

Hampir setahun lamanya, kita disuguhi “perang”. Bukan fisik. Namun, perbedaan pendapat. Kubu A dan B. Seolah-olah bangsa ini terbelah hanya karena dukungan.

Loading...

Jagat maya disuguhi foto, video, dan tulisan perang urat syaraf. Dari Cebong vs Kampret, kartu vs kartu, sampai saling klaim dukungan dan tuding dugaan kecurangan. Ending-nya, bikin malas buka media sosial (medsos).

Dari berbagai gelaran pesta demokrasi yang telah terjadi di negeri ini, barangkali baru tahun ini yang sepertinya sengit. Benar-benar sengit. Hampir semua masyarakat terlibat. Ikut serta “meramaikan”.

Apakah ini baik? Menurut saya baik. Selama menganggapnya hanya sebatas dukungan. Yang tidak baik jika suasana ini sampai terbawa hingga gelaran pesta demokrasi selesai. Bangsa akan terpecah.

Siapapun yang nantinya terpilih sebagai presiden dan wakil presiden, serta wakil rakyat, mereka adalah putra-putri terbaik negeri ini. Karena hanya mereka yang berani dan lolos seleksi untuk menjadi pemimpin bangsa ini.

Pada pesta demokrasi ke depan, situasi seperti ini harus dibenahi. Kita sedang berpesta. Tentu harus happy. Ti­dak perlu saling hujat, saling fitnah, atau saling ancam. Silakan berkampanye. Silakan menentukan dukungan. Namun, kita tetap Indonesia.

Yang paling penting, pesta politik tidak boleh menyebabkan “matinya” suatu daerah.

Seperti contohnya Batam. Gara-gara politik, nasibnya terkatung-katung. Tidak ada kepastian. Investor pun kian ragu. Pengembang tiarap. Semua satu suara: Menunggu hasil.

Bagi Batam, bukan soal siapa menang atau kalah. Siapapun pemimpin dan wakil rakyatnya, kepastian soal regulasi dalam berinvestasi tetap yang paling utama. Batam sebagai kawasan yang berada di serambi ASEAN, memiliki potensi besar. Tidak sekadar menjaga harkat dan martabat bangsa, namun juga pusat investasi dunia.

Sayangnya, dalam lima kali debat, tidak satupun menyinggung soal Batam. Ini yang membuat saya jengkel dan mempertegas sikap saya untuk tidak memilih. Kebanyakan membahas soal proyek.

Padahal, saat kedua capres kampanye di Batam, dengan lantang menyuarakan soal Batam. Jokowi menjanjikan setifikasi Kampung Tua dan Jembatan Batam-Bintan. Sedangkan Prabowo menjanjikan pembangunan pabrik-pabrik yang menyerap ribuan–bahkan jutaan–lapangan pekerjaan. Sayangnya, itu semua tidak terucap saat debat.

Saya agak heran. Sepertinya semua luput dengan Batam. Padahal, Batam adalah etalase Indonesia. Baik atau tidaknya kondisi Indonesia, dinilai dari Batam. Ketika situasi sedang tidak bersahabat, tentunya akan memberikan multiplier effects.

Ketika orang ragu berinvestasi di Batam, berkemung-kinan juga ragu dengan Indonesia. Tidak hanya Batam, daerah lain akan berdampak besar. Tentu kita masih ingat. Perdebatan panjang soal free trade zone (FTZ), kawasan ekonomi khusus (KEK), hingga ex officio tidak juga menemui titik temu.

Batam seolah tak terjamah. Menunggu nasib. Siapa yang akan jadi pemenang. Ini yang salah. Banyak yang tezalimi. Ambruknya perekonomian Batam mestinya disikapi dengan bijak. Tidak dikaitkan dengan siapa pemimpin Indonesia berikutnya. Butuh penanganan serius.

Semoga, siapapun yang terpilih nantinya, dapat segera memperbaiki kondisi Batam. Bisa memberikan angin segar bagi pertumbuhan investasi. Bisa mengangkat kembali perekonomian menjadi lebih baik. (*)

Loading...