Waduk Sei Harapan
foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Waduk Sei Harapan hampir-hampir tak ada harapan. Jika waduk tersebut tidak kunjung dikeruk, maka dalam tempo sebulan, warga Sekupang akan mengalami krisis air.

Kepala Bidang Pengelolaan Waduk BP Batam, Hadjad Widagdo mengatakan persoalan ini sebenarnya sudah menjadi atensi BP Batam dari beberapa tahun lalu.

Loading...

“Saat ini sedang pengurusan izin analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) dengan kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kepri dan mengkaji proses konservasi untuk kegiatan normalisasi waduk tersebut,” katanya Senin (15/4/2019).

Untuk seluruh kegiatan yang dilakukan di atas lahan seluas 1 hektar, termasuk kegiatan pengerukan waduk wajib untuk mengurus amdal.

“Karena amdal ini diperlukan terkait dampak lingkungan akibat kegiatan normalisasi tersebut,” ujarnya.

Namun, sayangnya dana yang dibutuhkan untuk melakukan pengerukan berasal dari dana Dam Operational Improvement and Safety Project (DOISP) yang dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera).

BP Batam sudah menunggu dana tersebut sejak beberapa tahun yang lalu sehingga selalu menjadi alasan mengapa belum bisa dilakukan pengerukan, meskipun kondisi Waduk Sei Harapan semakin kritis.

“Kami terus mendorong prosesnya. Perkiraan dana yang dibutuhkan dapat mencapai Rp 50 miliar tergantung metode dan tingkat kesulitannya,” ungkapnya.

Persoalan lain yang sebenarnya menjadi hambatan adalah banyaknya pembakaran hutan di sekitar waduk tersebut yang merusak daerah tangkapan air (DTA). Karena DTA yang terlanjur rusak, maka tidak ada pohon yang dapat menampung air hujan untuk dialirkan ke dalam waduk. Ditambah lagi kondisi beberapa bulan ini, dimana curah hujan yang turun sangat sedikit sekali.

Menurut PT Adhya Tirta Batam, sebagai pengelola air bersih di batam, kondisi Waduk Sei Harapan cukup memprihatinkan. Air surut di waduk tersebut sudah bisa membuat bagian tanah yang seharusnya berada di bawah air terlihat dan semakin luas.

Genangan air hanya terlihat berada di bagian tengah waduk. Hal tersebut menandakan ketersediaan air baku yang ada semakin tipis.

Surutnya air baku di dalam waduk, dipengaruhi oleh beberapa faktor yang signifikan, diantaranya sedimentasi (pendangkalan) mencapai 1 juta m3 per 2017. Dampaknya, daya tampung waduk jadi berkurang mencapai setengahnya sampai saat ini. Pendangkalan terus terjadi ditambah kurangnya intensitas hujan yang turun, terutama di wilayah waduk. Sejak tiga bulan terakhir curah hujan turun hanya 136 mm, angka tersebut jauh dari intensitas normal diangka 500 mm.

“Curah hujan hanya sepertiga dari kondisi normal, kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Waduk Harapan tidak lagi handal, akan berpengaruh kepada produksi air bersih, kondisi waduk Sei Harapan saat ini jelas belum pada performa terbaiknya,” jelas Estiyudo Listyadi, Manager Produksi ATB.

Level waduk Harapan saat ini berada diangka -2,3 meter diatas permukaan spillway. Batas tersebut sudah masuk dalam tahap waspada. Apabila level waduk mencapai pada angka – (minus) 2,5 meter dari permukaan spillway, IPA Sei Harapan dilakukan penggiliran produksi (rationing).

“Untuk memperpanjang umur ketersediaan air waduk Sungai Harapan, maka ATB harus melakukan penghentian produksi WTP Harapan. Kondisinya air baku yang tidak ada, tentu ATB tidak bisa berproduksi. Apabila sudah dilevel -2,5 meter, ATB akan lakukan penggiliran produksi air bersih, mau tidak mau akan dilakukan rationing,” tambah Maria.

Apabila penggiliran produksi IPA Harapan terjadi, adalah pilihan yang tidak bisa dihindari, setidaknya dengan penggiliran produksi umur waduk masih bisa bertahan. Sebaliknya apabila tidak dilakukan penggiliran, umur waduk di pastikan hanya sesaat dan bisa menjadi masalah yang besar bagi ketersediaan air bersih di Batam.

Sedimentasi waduk Harapan mulai terlihat sejak 2015. Pendangkalan menyebabkan kekeringan, kualitas, kuantitas dan kontinuitas suplai air akan terpengaruh.
Langkah rationing dilakukan, efeknya tentu dirasakan pelanggan. Tidak hanya kawasan industri namun berdampak pada pelanggan domestik rumah tangga.

Krisis air bersih hanya tinggal menunggu waktu. Apabila daya tampung waduk terus berkurang karena pendangkalan belum teratasi, tetap saja jumlah air baku tidak bisa mencukupi kebutuhan, terlebih jumlah pelanggan terus mengalami peningkatan.

“ATB telah memaparkan eskalasi ke pemiliki aset (BP Batam). Sejak krisis air akibat El Nino 2012 dan rationing di tahun 2015 untuk segera mengatasi pendangkalan yang terjadi. Sudah dilakukan survey pada waduk Harapan, namun BP Batam sepertinya masih melakukan koordinasi dengan pihak pusat sampai saat ini. Sementara penyusutan level waduk terus berlanjut dan waduk Harapan akan mengalami krisis air, opsi rationing mungkin akan segera kita ambil. 18 ribu pelanggan baik industri, rumah tangga dan sosial akan berpotensi terdampak,” ujar Maria.

Loading...