ilustrasi

batampos.co.id РPemadaman listrik secara bergilir oleh PT bright PLN Batam terus berlanjut. Tak ha­nya dikeluhkan warga, kondisi ini juga mulai diprotes kalangan pengusaha karena dinilai sangat mengganggu aktivitas industri di Batam.

Protes itu dilayangkan oleh manajemen Kawasan Industri Terpadu Kabil (KITK) dan sejumlah tenant di dalamnya. Seperti yang telah terjadi sebelumnya, pemadaman listrik yang terjadi pada Senin (22/4) kemarin membuat aktivitas industri sejumlah tenant di KITK kacau balau. Bahkan PT SMOE terpaksa harus menghentikan proses produksi dan memulangkan 1.500 karyawannya akibat pemadaman listrik, Senin (22/4/2019).

“Kalau kerugian material susah dihitung. Tetapi yang jelas terlihat adalah, produksi terganggu dan otomatis pengiriman pesanan ke konsumen akan tertunda,” kata Direktur Utama KITK Peter Vincent, Senin (22/4/2019).

Kondisi ini, kata Peter, tentu sangat merugikan pengusaha. Sebab keterlambatan pengerjaan proyek akan berdampak pada tingkat kepercayaan konsumen.

“Perusahaan kemungkinan akan mendapatkan penalti atas delay itu,” katanya.

Peter menambahkan, persaingan untuk mendapatkan proyek atau pesanan produk dari dalam maupun luar negeri saat ini sangat ketat. Selain masalah kualitas, ketepatan waktu juga menjadi pertimbangan utama bagi konsumen pemberi proyek.

“Yang sangat berbahaya adalah kepercayaan klien pemberi kerja bisa berkurang dan konsekuensi order placement yang bisa dibatalkan,” ungkap Peter.

Menurut Peter, pihaknya sudah sering menyampaikan protes ini kepada PLN Batam. Namun, sejauh ini belum ada solusi. PLN Batam justru menawarkan layanan premium agar listrik ke KITK tidak terganggu. Sebab tarifnya jauh lebih mahal dan tarif yang ada saat ini.

“Harganya nggak cocok untuk industri. Beda harganya 40 hingga 60 persen lebih mahal,” ucapnya.

Government Relation and QHSE Manager KITK Sony Fuah menambahkan, ada lima dampak pemadaman listrik bergilir yang berlarut ini bagi industri, yaitu menggagalkan target industri, menimbulkan kerugian bagi industri, mengancam investasi, dan meningkatkan kecemasan investor terkait jaminan pasokan listrik.

“Dan kelima, berpotensi mengakibatkan investor hengkang keluar Batam,” ungkap Sony.
Sony mengaku sejauh ini telah banyak keluhan dari para tenant di KITK terkait pemadaman listrik yang terus berlarut ini. Seperti PT Yokohama, PT SMOE, dan PT DSAW.

Karena saat pemadaman bergilir, para tenant di KITK sedang menyelesaikan produksi dalam jumlah besar. Selain itu, pemadaman bergilir ini mengganggu tenant-tenant yang sedang dalam proses tender, atau saat kedatangan rekanan bisnis mereka.

“Kejadian pemadaman listrik PLN ini terjadi pada saat-saat produksi sangat tinggi, proses tender proyek baru, serta proses audit dan product testing dari customer,” ucapnya.

Yang lebih disayangkan, kata Sony, pemadaman listrik sering dilakukan saat jam-jam produktif. Sehingga menyebabkan gagal produksi dalam jumlah yang besar.

“Proses produksi yang sedang jalan itu tak bisa diteruskan lagi saat mati listrik. Jadi produksi itu cacat,” ungkapnya.

Sony menyebut, sejauh ini PLN Batam tidak menawarkan solusi atau alternatif bagi kawasan industri. Bahkan, pemberitahuan akan adanya pemadaman bergilir saja diinformasikan secara mendadak. Sehari atau semalam sebelum pelaksanaan. Hal ini, menurutnya, perusahaan seolah diminta memikirkan sendiri alternatif lain untuk menghadapi gangguan akibat pemadaman listrik tersebut.

Menurut Sony, seharusnya PLN Batam dapat memberikan alternatif kepada industri khususnya penetapan waktu pemadaman bergilir. Sebagaimana yang pernah mereka usulkan kepada PLN Batam, untuk mempertimbangkan penjadwalan ulang pemadaman bergilir, yaitu pemadaman di pagi dan siang hari bagi permukiman atau perumahan.

Sementara pemadaman bagi industri dapat dilakukan pada malam hari.

“Tapi usulan kami tersebut tidak mendapat respon dari PLN,” lanjutnya.

Human Resources dan General Affairs Manager PT Yokohama Syamsul Hidayat mengamini perkataan Peter Vincent dan Sony Fuah. Akibat pemadaman bergilir ini, Yokohama merugi hingga miliaran rupiah. “Sampai-sampai (investor) bilang ini crazy activities,” tutur Syamsul.

Ia mengatakan, bahan produksi di Yokohama memiliki waktu kedaluwarsa. Jika produksi gagal akibat listrik padam, maka bahan produksi itu tidak akan bisa dipakai lagi dan akan menjadi scrab.

“Hanya jadi sampah,” ungkapnya.

Saat ini, di Yokohama sedang dilakukan audit dari customer-nya. Audit tersebut dilaksanakan dari 22 April hingga 4 Mei nanti. Audit ini untuk melakukan kualifikasi atas produk yang dihasilkan. Namun, banyak ditemukan produk yang kurang baik karena gagal produksi akibat listrik yang sering padam.

“Listrik mati, produk gagal dan cacat,” tuturnya.

Syamsul mengatakan, hingga saat ini pihaknya memang tidak memiliki pembangkit atau genset sendiri untuk kebutuhan listriknya. Sebab, saat Yokohama masuk ke Batam, kata Syamsul, investor diyakinkan pemerintah tidak perlu memikirkan permasalahan listrik. Karena, pembangkit listrik tenaga gas milik PLN Batam mampu memasok listrik ke Yokohama.

“Ketika pemerintah bilang aman, investor percaya. Walaupun penyampaian itu hanya secara lisan saja,” ucapnya.

Selain audit, Syamsul juga khawatir ekspansi yang akan dilakukan investor Yokohama terancam gagal dilaksanakan. Tentu gagalnya ekspansi ini akan menjadi kerugian bagi pemerintah. Karena harusnya mendapatkan pajak dan terbukanya lowongan pekerjaan, tapi semua terancam gagal karena permasalahan pasokan listrik. “Ini baru masalah listrik loh, belum masalah lainnya. Katanya pemerintah mengejar investor masuk, tapi kenapa tidak dijaga dengan baik,” ungkapnya.

Syamsul mengaku sudah beberapa kali meminta respons dari PLN Batam. Tapi, tidak diberikan respons yang baik.

“Kondisi ini sungguh tidak nyaman. Hari ini mau mati, hari ini dikasih tahu atau sehari sebelumnya. Andai lupa lihat ponsel, kecolongan kami,” tuturnya.
Ia berharap apabila memang ada perbaikan, harusnya ada pemberitahuan sejak jauh-jauh hari. Setidaknya, sebulan sebelum pemadaman. PLN Batam, diminta juga lebih respons atas keluhan pihak industri.

“Contohnya ajak bicara investor, dijelaskan duduk masalahnya. Tapi ini tidak. Saat ini penuh ketidakpastian dan kecemasan,” ujarnya. (ska)