Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Harapan

batampos.co.id – Hujan yang mengguyur Batam beberapa hari ini ternyata belum mampu mengangkat level elevasi Waduk Seiharapan ke level normal. Akibatnya, penggiliran pasokan air atau rationing yang dilakukan PT Adhya Tirta Batam (ATB) masih terus berlanjut.

Kasubdit Pengelolaan Waduk BP Batam Hadjad Widagdo mengatakan, level waduk normal agar aliran air tak perlu rationing yakni pada level di atas minus 2. Saat ini, level elevasi Waduk Seiharapan dari lubang air atau spillway masih berada di level minus 2,45.

”Untuk amannya sejauh mungkin di atas level minus 2,0. Saat ini hujan, semoga terus berlangsung untuk meniadakan ancaman kekeringan yang bermuara ke rationing,” katanya, Senin (23/4).

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan juga website accuweather.com memperkirakan hujan akan terus berlangsung hingga penghujung April. Memang untuk tahun ini, hingga penghujung April, curah hujan di Batam sangat minim sekali bahkan tidak mencapai rata-rata 500 mm. Tercatat, saat ini hujan berkisar di rentang 118 mm hingga 259 mm.

Kondisi tersebut berpengaruh pada penyusutan level Dam Seiharapan yang terus menurun sejak Januari lalu. Hingga saat ini, penyusutan mencapai minus 245 sentimeter (cm). Tapi ini tidak lebih buruk dari penyurutan pada tahun 2015 lalu yang mencapai minus 400 cm. Penyebabnya kala itu, karena fenomena El Nino yang juga diduga menjadi penyebab cuaca panas saat ini.

Waduk Seiharapan sangat penting karena menjadi penyuplai air bersih utama bagi 18.199 pelanggan ATB di wilayah Sekupang dan sekitarnya pada Maret lalu.

Pelanggan-pelanggan tersebut terdiri dari 392 pelanggan dari institusi, 16.097 pelanggan rumah tangga, 1.591 pelanggan komersial dan 119 pelanggan dari industri.

Lalu, bagaimana dengan jumlah konsumsi air di Sekupang pada Maret lalu? Berdasarkan data BP Batam, jumlah konsumsi air mencapai 402.649 meter kubik. Konsumsi air terbesar yakni konsumsi rumah tangga mencapai 290.814 meter kubik, kemudian industri mencapai 40.229 meter kubik, institusi mencapai 37.304 meter kubik dan komersial mencapai 34.403 meter kubik.

Jumlah tersebut dengan rata-rata konsumsi air per pelanggan di Batam mencapai 190 liter per detik, jauh lebih tinggi dari konsumsi air di Singapura yang hanya 120 liter per detik.

”Kami berharap hujan terus turun, kalau tidak, semakin berat kondisinya. Gerakan penghematan air akan jadi keniscayaan,” paparnya.

Penggiliran air ini memang sangat berpengaruh kepada masyarakat dan juga pelaku usaha, khususnya usaha kecil menengah (UKM) seperti pengusaha laundry dan pe-ngusaha galon air.

Wawan, warga Perumahan Tiban Airis mengaku mati air sudah menjadi hal yang lumrah.

”Biasanya sih air hidup pukul 22.00 WIB, kadang malah baru pukul 01.00 WIB. Begitupun alirannya kecil dan hanya beberapa jam saja,” ungkapnya.

Sejatinya, penggiliran air baru mulai diberlakukan pada 20 April lalu, namun Wawan sudah merasakan mati air sejak sehari sebelumnya.

Begitu juga dengan Yanti, pegawai laundry di Tiban I. Karena penggiliran air pada hari Sabtu dan Rabu, pekerjaan di laundry berjalan lambat.

”Seharusnya selesai dua hari, jadi lebih lama karena pemakaian air harus dijatah,” jelasnya. (leo)