Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo memberikan pemaparan materi pada workshop tentang Peliputan Pemilihan Legislatif dan Pilpres 2019 di Hotel Nagoya Hill, Rabu (24/4). F. Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Dewan Pers menggelar workshop Peliputan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden (Pemilu) 2019 di Hotel Nagoya Hill, Batam, Rabu (24/4).

Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo mengatakan, media berperan penting dalam pemilu. Pers menjalankan peran edukasi melalui informasi yang proporsional tentang pemilu. Yakni, berperan me-ngawasi tahapan persiapan pelaksanaan pemilu, penye-lenggaraan pemilu, termasuk peserta pemilu. Interaksi masyarakat dalam pemberitaan pemilu juga sangat membantu parameter tingkat kesuksesan pemilu.

Saat ini, Pemilu 2019 sudah usai dan sedang dalam tahapan penghitungan suara. Namun, sembari menunggu pengumuman resmi, ternyata sudah ada pihak yang me-ngumumkan kemenangan.


”Pemilu ini ibarat pertan-dingan tinju. Ketika tidak ada yang meng-KO (knock out/mengalahkan) lawan, setiap petinju akan merayakan kemenangannya. Namun, untuk pemenang sendiri akan tetap ditentukan oleh penilaian juri. Begitu juga dengan pemilu,” katanya.

Situasi pasca pencoblosan untuk Pilpres, kedua kubu mengklaim kemenangan. Para pendukung menggalang massa dan opini, media sosi-al menyebarkan hoaks dan ketakutan. Media terbelah dalam dua kutub, banyak ekspos tentang kekurangan penyelenggaraan pemilu, media mengekpos komentar yang menimbulkan kemarahan.

”Oleh sebab itulah saya ingatkan lagi kepada wartawan. Kita harus jadi pelayan bagi masyarakat, bagaimana intinya kita bisa melayani kepen-tingan publik, mari kita tingkatkan profesionalisme wartawan,” tegasnya. Dalam workshop itu, Yosep menegaskan bahwa Pemilu 2019 itu penting.

Salah satu alasannya, pemilu demokratis adalah perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh regulasi, nama dan etika. Sehingga, sirkulasi elite atau pergantian kekuasaan dapat dilakukan secara damai dan beradab. Pemilu sebagai pendidikan politik rakyat yang langsung, terbuka dan massal.

Untuk itulah, pers nasional melaksanakan peranannya memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Selain itu, kewajiban bagi setiap wartawan agar selalu bersikap independen dengan memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani. Serta, diharapkan mampu menghasilkan berita yang akurat. ”Akurat yaitu yang dapat dipercaya, benar, sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi,” ungkap Yosep.

Ia juga mengimbau agar meliput sengketa pemilu dari episentrumnya. Salah satunya, menghindari pernyataan yang tidak diperlukan dari pihak yang bersengketa, melakukan cek dan ricek terhadap sebuat fakta, data dan informasi yang disampaikan, cek pada peraturan perundangan serta jangan segan bertanya pada ahli yang kompeten dan kredibel, bukan pengamat yang partisan tinggi.

”Pers sebagai pilar demokrasi, sebagai pengawasan, penafsiran, penghubung, penerusan nilai-nilai dan pendidikan,” pungkasnya. (rng)

Loading...