batampos.co.id – Walikota Batam Muhammad Rudi mengaku banyak menerima keluhan terkait buruknya pelayanan PT PLN Batam ini. Karena itu, Rudi akan memanggil direksi perusahaan setrum tersebut.
“Nanti kami undang ke kantor, sebab sudah banyak yang mengeluh,” ujar Rudi di Batam Center, Rabu (24/4).
Sebulan terakhir, kata Rudi, ia kerap mendapat surat tembusan dari warga hingga pengusaha, di antaranya Himpunan Kawasan Industri (HKI) Batam, terkait pemadaman bergilir yang hampir terjadi setiap hari. Baik warga maupun pengusaha, kata Rudi, mengaku mengalami banyak kerugian akibat listrik byarpet.
“Setiap hari banyak surat tembusan. Kalau bisa memang secepatnya kami undang,” ujar Rudi. Menurut dia, pertemuan nanti akan membahas penyebab utama pemadaman bergilir berlangsung cukup lama di Batam.
Hal itu tak hanya berpengaruh terhadap warga dan pengusaha, namun juga wisman yang datang ke Batam. Apalagi jelang bulan Ramadan.
“Kami akan minta solusi, agar pemadaman seperti ini tak berlanjut terus menerus,” kata Rudi.
Sementara, Badan Pengu-sahaan (BP) Batam sudah membawa persoalan lis-trik ini ke Dewan Kawasan (DK).
“Kami sudah menyampaikannya ke Tim Teknis DK untuk memberikan opsi-opsi terbaik secepatnya. Ke depannya memang perlu ada mitigasi risiko agar kenyamanan investasi tetap terjamin,” kata Kepala BP Batam Eddy Putra Irawadi, Rabu (24/4).
Sebelumnya, BP Batam sudah membahas persoalan listrik biarpet ini dengan Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri. “Hasilnya sangat mengharapkan kondisi ini harus segera diselesaikan PLN Batam karena menyangkut kepastian produksi dan aktivitas usaha di wilayah kerja BP Batam,” tambahnya lagi.
Eddy menuturkan, sejak kunjungan kerja tim Kementerian Koordinator Kemaritiman beberapa minggu lalu, BP mulai mengevaluasi secara menyeluruh utilitas di Batam, seperti listrik, air, dan gas.
“Kita melakukan evaluasi menyeluruh dari pasokan gas dan kemampuan PLN untuk menjamin suplai listrik dan kepastian harga yang terpro-yeksi, termasuk opsi pengadaan listrik sendiri bagi indus-tri seperti yang dilakukan Kawasan Industri Batamindo,” ujarnya.
Ia menambahkan, sembari proses evaluasi, BP juga menunggu tanggapan dan keputusan DK terkait listrik ini. Listrik jadi kebutuhan primer yang tidak bisa ditawar lagi bagi kawasan industri.
“Kami tentu mendesak PLN juga segera menyelesaikan kondisi ini,” harapnya.
Humas PT PLN Batam Yoga Perdana mengatakan, untuk mengatasi listrik biarpet ini PLN sudah meminta suplai listrik Bintan sebanyak 23 MW serta menunda jadwal pemeliharaan mesin pembangkit.
“PLN menunda perbaikan pembangkit yang seharusnya sudah masuk jadwal maintenance. Dan saat ini jumlah pemadaman pun sudah tidak banyak. Hanya tinggal di industri di siang dan malam hari,” paparnya.
Saat ini, proses perbaikan mesin pembangkit listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Panaran masih terus berlanjut.
“Prosesnya masih on going. Ada satu mesin yang belum datang. Untuk gas turbin sudah on site, tapi untuk gas generator masih dalam perjalanan dari Eropa,” ungkapnya.

Setelah komponen-komponen mesin itu diinstalasi, maka akan masuk ke sistem diperkirakan pada awal Mei. Yoga menjamin PLN Batam tidak akan melakukan pemadaman lagi saat Ramadan nanti.
“Pas puasa, targetnya nanti sudah tidak ada lagi pemadaman,” katanya.
Harusnya Surplus
Listrik Batam seharusnya surplus. Data yang didapat Batam Pos, daya listrik keseluruhan Batam lebih dari 550 megawatt (MW), sedangkan beban puncak tertinggi hanya sekitar 465 MW. Sehingga masih ada cadangan daya sekitar lebih dari 100 MW.
“Jujur saja kalau tidak ada kerusakan mesin, maka listrik Batam memang surplus. Tetapi mau bagaimana lagi, ada kerusakan mesin di pembangkit milik PLN Batam,” kata Humas PLN Batam Yoga Perdana, Selasa (23/4).
Sementara itu, pengusaha yang juga wakil ketua Komisi II DPRD Batam Sallon Simatupang mengatakan, masalah kelistrikan di Batam beberapa bulan belakangan sudah sangat merugikan dunia usaha. Para investor di Kawasan Industri Sekupang juga sudah mengeluh karena seringnya pemadaman listrik.
“Daya saing Batam bisa turun karena listrik. Padahal setahu saya, daya listrik yang ada di Batam harusnya cukup dan bahkan berlebih. Nah, patut dicurigai, kenapa bisa sampai sering terjadi kerusakan mesin,” katanya.
Menurut Sallon, selama ini PLN Batam tidak terlalu transparan mengenai sistem kelistrikan di Batam. Bahkan sempat mengaku rugi.
Ia heran mesin pembangkit yang sering rusak adalah milik PLN Batam sendiri, sementara milik swasta malah lebih andal dan lebih bagus.
“Banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa PLTU Tanjungkasam hanya sebagian kecil dari pembangkit yang ada. Justru milik PLN Batam dan perusahaan lain yang paling besar. Dan kita harus akui PLTU Tanjungkasam malah yang jarang mengalami gangguan,” katanya.
Menurutnya, PLN harus memperbaiki diri. Harus meningkatkan standar mutu pelayanan. Ia berharap kerusakan pembangkit PLN harus segera diperbaiki sehingga ketika ada pemerliharaan di pembangkit lain, tidak terjadi black out. (she/leo/ian)
