Kaleng itu biasa saja. Bahkan, ’’tidak ada isinya’’. Hanya udara. Tapi, orang-orang antre membelinya. Sebab, kaleng tersebut berisi udara terakhir di era Heisei.

Dini hari tadi, era kepemimpinan Akihito itu berakhir. Diganti dengan era Reiwa. Orang-orang memanfaatkan momen terakhir tersebut untuk menyimpan kenangan sebanyak-banyaknya.

Dilansir AFP, Heso Production membuat seribu kaleng berisi udara era Heisei itu. Penjualannya lewat online dan dijual di toko oleh-oleh di Desa Henari. Harganya 1.080 yen atau setara Rp 138 ribu.

’’Udara memang gratis, tapi kami harap orang akan menikmati bernapas dengan udara segar era Heisei ketika era baru telah dimulai. Atau mereka bisa menyimpannya untuk kenang-kenangan,’’ ujar Presiden Heso Production, Minoru Inamoto.

Bagi sebagian orang, perpisahan memang menyakitkan. Karena itu, mereka butuh sesuatu untuk dikenang. Kaleng isi udara era Heisei tersebut hanya salah satunya. Beberapa penduduk memilih memburu stempel terakhir era Heisei. Mereka antre di stasiun kereta api atau tempat-tempat lain yang menyediakan stempel di kartu atau tiket masuknya.

Restoran-restoran tak mau kalah untuk menarik pembeli. Mereka memberikan berbagai tawaran untuk makan terakhir di era Heisei. Beberapa menu juga dikemas dengan unik. Beberapa kafe menyediakan kopi yang bergambar wajah Akihito dan Michiko.

Tak mau sesuatu yang murah? Koin emas bertulisan Heisei bisa menjadi opsi koleksi. Harganya mencapai Rp 170,9 juta. Meski mahal, koin itu terjual bak kacang goreng.

Sebentar saja sudah habis. Toko-toko kue tak mau ketinggalan. Mereka membuat berbagai makanan khas era Heisei.

’’Transisi (kekuasaan) adalah kesempatan yang sangat jarang sehingga harus dirayakan,’’ ujar Haruka Nuga seperti dikutip AP. (sha/c22)