batampos.co.id – Jalan berlubang dan tidak adanya lampu penerangan di jalur dua Jalur S Parman, Seibeduk, membuat pengendara khawatir. Apalagi, sudah banyak memakan korban di lokasi antara pintu empat dan lima Kawasan Industri Batamindo ke arah Tanjungpiayu.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM-SDA) Kota BatamYumasnur saat dikonfirmasi mengatakan, pemasangan lampu akan dilakukan tahun ini.
“Nanti akan kami pasang lampu jalannya bertahap,” ujarnya, Kamis (2/5/2019).
Tahap pertama pihaknya merencanakan pemasangan lampu dari terminal menuju SPBU. Untuk jumlahnya disesuaikan dengan anggaran tahun ini.
“Jumlah pastinya saya lupa. Secepatnya akan kami pasang karena memang kondisinya urgent,” ungkapnya.
Selain minim penerangan jalan, kondisi ruas jalan yang sering dilalui pengendara ini juga banyak lubang akibat aspalnya rusak. Mengenai hal ini, Yumasnur mengatakan abhwa jalan tersebut merupakan wewenang Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri.
“Tapi kami tadi (kemarin, red) baru melakukan survei ke sana dengan Pemprov Kep-ri. Hasil dari survei itu, jalan rusak itu akan diaspal kembali mulai Senin depan,” ujarnya.
“Karena itu memang jalan provinsi. Kami juga harus koordinasi dengan ATB sebab ada dugaan pipa bocor di lokasi ini,” sambungnya.
Disinggung mengenai perbaikan jalan rusak yang ada di Batam, Yumasnur menyatakan bahwa pengerjaan terus berjalan hingga saat ini. Beberapa jalan berlubang sudah diperbaiki dengan pengaspalan menggunakan kerikil.
“Ada banyak jalan yang sudah kami tambal. Sekarang sudah tidak ada lubang lagi. Namun, memang ada beberapa jalan yang masih dalam tahap akan dikerjakan. Bertahap kami berjalan,” lanjutnya.
Untuk perbaikan jalan itu ada tiga unsur yang terlibat, yakni Pemko Batam, Pemprov, dan pemerintah pusat. Masing-masing memiliki kewenangan di jalan yang dibawahi.
“Yang kota sudah berjalan. Kalau yang masih menunggu. Untuk menutup jalan berlubang sudah dilakukan tapi kalau pengaspalan ulang keseluruhan membutuhkan anggaran khusus,” sebutnya.
Sementara itu, pantauan kemarin sore, lubang di tengah Jalan S Parman semakin parah. Retakan jalan semakin melebar. Alhasil, pengguna jalan hanya bisa menggunakan lajur kanan pada jalur tersebut.
Untuk menutupi lubang dan sebagai tanda bagi pengguna jalan, warga menutupnya dengan ranting pohong yang disertai dedaunan. Sementara dari lubang, air terus merembes keluar.
“Takutnya semakin besar karena kan air juga,” kata seorang warga Seibeduk, Hartanti. (yui/cr1/iza)
