Dam Sei Harapan

PT Adhya Tirta Batam (ATB) selaku pemegang konsesi pengelolaan dan pendistribusian air bersih di Pulau Batam, memiliki tantangan besar dalam menyediakan air baku untuk masyarakat dengan keterbatasan sumber daya air yang ada. ATB terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanannya. Cakupan layanan ATB yang sudah mencapai 99,6% membuktikan kehandalan kualitas layanannya sudah terbaik di Indonesia bahkan menjadi benchmarking hingga ke skala internasional.

Ketersediaan air baku di Batam, menjadi perhatian utama berbagai kalangan. Pulau Batam yang mengandalkan waduk tadah hujan, sangat rentan terhadap ancaman krisis air bersih. Saat ini, Batam mengandalkan lima waduk yakni Waduk Duriangkang, Waduk Muka Kuning, Waduk Nongsa, Waduk Sei Ladi dan Waduk Sei Harapan.

Waduk terakhir bahkan sedang berada di level kritis sehingga sejak 20 April 2019 diberlakukan penggiliran air bersih (Water Rationing). Dimana Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Harapan tidak beroperasi selama 24 jam setiap hari Sabtu dan Rabu untuk ketahanan air baku. Air baku yang ada saat ini harus melayani kawasan industri, perkantoran, fasilitas pelayanan publik, pariwisata dan tentu saja pelanggan rumah tangga.

Ironisnya, kondisi ini mulai mengancam satu persatu waduk yang dikelola ATB. Penyusutan air baku, pendangkalan, anomali iklim hingga kebakaran hutan yang terjadi beberapa waktu terakhir, memberi dampak yang cukup serius dengan kondisi waduk-waduk yang dikelola ATB. Konversi lahan dan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia juga semakin mengurangi daya serap daerah tangkapan air.

Waduk Sei Harapan yang belum pulih dan masih harus mengalami Water Rationing untuk ketahanan air baku meskipun tidak untuk waktu lama. Jika intensitas curah hujan tidak mengalami peningkatan dan pendangkalan yang terjadi tidak segera diatasi pemerintah, Waduk Sei Harapan terancam lumpuh dan tidak bisa beroperasi lagi. Artinya, Batam akan terancam darurat air bersih.

ATB terus melakukan inovasi teknologi dan upaya untuk meminimalisir dampak berkurangnya air baku, salah satunya dengan menekan angka kebocoran hingga 16%. Namun sehebat apapun ATB dalam mengelola air, tetap tidak akan ada artinya tanpa air baku. Peran pemerintah dalam pengelolaan dan pengawasan waduk sangat dibutuhkan untuk menjamin kehandalan waduk baik dari segi kapasitas daya tampung maupun kualitas lingkungan sekitarnya. Termasuk segera mengoperasikan sumber air baku yang baru seperti Waduk Tembesi.

Kebutuhan air bersih yang terus meningkat setiap tahunnya, tentu harus menjadi pertimbangan bagi pemerintah sebagai pemilik waduk di Batam untuk terus mengembangkan sumber-sumber air baku baru agar bisa diolah.

Seluruh elemen masyarakat juga dituntut berperan aktif menjaga ketersediaan air di Pulau Batam dengan menghemat penggunaan air bersih. Bertoleransi dalam menampung dan menggunakan air seperlunya baik di lingkungan rumah, sekolah, kantor maupun di tempat umum. Kita harus mulai menyadari pentingnya menghemat penggunaan air bersih agar hak dasar manusia atas air dapat terus dipenuhi hingga ke generasi mendatang. (*)