batampos.co.id – Transportasi udara dengan pesawat terbang merupakan alur utama keluar masuk barang di Batam. Kondisi ini membuat perusahaan jasa titip (PJT) seperti Kantor Pos, JNE, TIKI dan sebagainya sangat bergantung pada lancarnya penerbangan. mereka memperebutkan jatah untuk bisa mengirimkan barang mereka di setiap rute penerbangan dari Batam.

PJT sendiri, kata Direktur Badan Usaha Bandara Udara (BUBU) Hang Nadim Batam, Suwarso, sejatinya bukan pihak yang masuk dalam prioritas utama dalam kargo pesawat. Barang-barang milik PJT ini justru jadi prioritas terakhir.

Suwarso menjelaskan, jenis pesawat yang banyak beroperasi di Bandara Internasional Hang Nadim ini rata-rata adalah pesawat type Boeing 737 dengan kapasitas kargo mencapai lima ton. Dari total kapasitas tersebut, prioritas utamanya diperuntukan bagi bagasi penumpang pesawat tersebut. Di urutan kedua surat-surat penting dan dokumen. Setelah itu diurutan ketiga baru kargo.

“Kargo ini sendiri, dibagi lagi antara barang-barang milik PJT dengan komoditas pangan yang biasanya ukurannya besar dan memakan space,” kata Suwarso ketika dihubungi pada Kamis (9/5).

Sementara untuk jumlah masing-masing barang yang masuk di satu pesawat, kata Suwarso lagi, berbeda-beda pada setiap penerbangannya. Namun tidak melebihi batas maksimal yang disediakan.

Sementara itu, Account Executive PT. POS Indonesia cabang Batam, Fachrurrazi saat ditemui di kantornya menjelaskan, ia dan PJT lain di Batam rata-rata hanya memperebutkan sekitar dua ton dari total ruang kargo yang ada di tiap pesawat.

Jumlah itu, lanjutnya mau tidak mau harus dimaksimalkan, karena memang sudah sesuai dengan ketentuan yang ada. Sejauh ini hal tersebut memang menjadi jalan utama untuk pengiriman barang keluar Batam. Sementara untuk pesawat kargo sendiri, pengurusannya terbilang sulit karena harus dilakukan di Jakarta.

“Di Batam ini tidak ada penerbangan khusus kargo, jadi kalau kita mau pakai harus mengurusnya ke Jakarta dulu,” kata Fachrurrazi. (bbi)

Loading...