Salah seorang petugas Pertamina menurunkan gas tiga kilogram di salah satu pangkalan di Kota Batam.F.Cecep Mulyana/batampos.co.id

batampos.co.id – Pertamina akan mencabut izin usaha pangkalan yang diketahui curang dan menjual gas elpiji 3 kilogram di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Unit Manager Communication dan CSR MOR I Pertamina, Roby Hervindo, mengatakan pihaknya akan turun ke lapangan dan mengecek kebenaran informasi dari salah seorang warga Perumahan Puri Agung, Sei Beduk.

“Jika terbukti, Pertamina akan menindak tegas, dalam aturan Pertamina sendiri cukup jelas, apabila pemilik pangkalan diketahui bertindak curang, maka kita akan menjatuhkan sanksi,” katanya, Rabu (8/5/2019).

Roby mengatakan, sanksi yang diberikan mulai dari pemberian surat peringatan dan jika nilai pelanggaran yang dilakukan cukup berat, pasokan gas elpijinya langsung dihentikan.

“Sanksi terberatnya pemutusan izin usaha,” tegasnya. Roby sendiri meminta kepada warga yang mendapatkan informasi kecurangan melaporkan langsung ke kantor Pertamina.

”Kami menerima dengan senang informasi dari pihak warga. Silahkan lapor dan sertakan alamat dan nama pangkalannya,” ujarnya.

Roby menjelaskan, selama bulan Ramadan, penyaluran gas elpiji bersubsidi tersebut masih sesuai kuota. Satuan tugas Ramadhan dan Idul fitri (Satgas Rafi) Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, mengestimasi penambahan konsumsi elpiji tiga kilogram subsidi sebesar empat persen. Atau setara dengan 53.000 tabung per hari untuk Provinsi Kepri.

Penambahan konsumsi diperkirakan terjadi pada epiji non subsidi seperti Bright Gas. Konsumsinya diestimasi sebesar 9.818 tabung per hari atau meningkat enam persen.

Sementara itu, warga Perumahan Puri Agung, Seibeduk, mengeluhkan salah satu pemilik pangkalan elpiji tiga kilogram di kawasan itu, diduga curang.

Pasalnya, meski telah memiliki pangkalan, pemilik pangkalan diduga mendirikan kios untuk menjual gas subsidi tersebut dengan harga yang jauh lebih mahal atau di atas HET.

Tn, salah seorang warga mengatakan, setelah mendapatkan pasokan gas dari agen, pemilik pangkalan memasok tabung melon itu ke kiosnya dan kemudian dijual dengan harga Rp 25 ribu per tabung.

”Pemilik pangkalan ini punya kios. Terus gas yang baru diantar agen distributor sebagian besarnya langsung di-drop ke kiosnya dan dijual mahal,” ujar Tn, Rabu (8/5).

Saat warga hendak membeli, pemilik pangkalan beralasan gas melon sudah habis. Warga kemudian diarahkan untuk membeli di kiosnya dengan harga di atas HET tersebut.

”Warga sudah pada kesel, tapi kami tak berani lapor, takut soalnya,” katanya.(yuli)