doto: batampos.co.id / cecep mulyana

batampos.co.id – Saat bulan Ramadan tak lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke Tanjunguma, Lubukbaja. Di sana pengunjung bisa menemukan puluhan jenis penganan khas dan menu berbuka puasa, salah satunya mie laksa dan berbagai jenis ikan bakar dan seafood.

Menjelang sore hari, pasar ini ramai dikunjungi masyarakat yang hendak berburu penganan khas dan menu berbuka puasa. Seperti Senin (6/5) lalu, ribuan masyarakat tumpah ruah.

Meski baru pukul 16.00 WIB, pasar yang berada di dekat pemukiman warga ini sudah dipenuhi warga dari berbagai penjuru Kota Batam. Sebelum memasuki pasar, gang sempit berukuran 2 hingga 3 meter itu tampak disesaki kendaraan bermotor yang terparkir semraut.


Pemuda setempat terlihat turun tangan membantu membenarkan posisi motor, agar kendaraan roda empat yang memaksakan diri melewati gang tersebut tidak terjebak kemacetan. Memasuki area pasar, pengunjung langsung disambut kepulan asap ikan bakar yang berada di deretan pertama pedagang pasar Tanjunguma.

Meski membuat sesak napas, namun aroma ikan bakar berlumuran bumbu rempah itu menggoda lidah dan perut yang sudah kosong sejak pagi. Tawar menawar antara pembeli dan penjual terlihat di sepanjang lapak itu. Jika harga sesuai, ikan di tangan, jika tidak, pembeli harus rela merogoh kocek mulai Rp 40 ribu per ekor ikan berukuran kecil.

“Harga ikan tergantung ukuran, yang kecil Rp 40 ribu, namun ada juga yang Rp 65 ribu juga,” kata Ismail, pedagang ikan bakar. Melewati lapak ikan bakar, pengunjung kemudian disuguhi penganan khas Ramadan. Ada puluhan jenis kue dan menu hidangan berbuka puasa yang ditemui di pasar ini.

Sebut saja lakse, talam hijau, onde-onde, lupis dan beragam es berbuka puasa. Pengunjung bebas memilih kue apa saja dengan harga mulai Rp 1000 per biji. Risnawati, salah satu penjual kue, mengatakan sudah 10 tahun menjual kue di pasar tersebut. Kue-kue itu ia bikin dan dijual sendiri.

“Hari-hari biasa saya jual juga, tapi tidak sebanyak saat puasa,” kata ibu 45 tahun ini.Ada beragam jenis kue ia buat. Mulai dari lupis, cucur, lakse hingga onde-onde. Risna mengaku kue buatannya selalu laris dan terjual habis. “Enggak pernah bersisa,” katanya.

Dia mengatakan, setiap tahun pasar yang sudah ada sejak tahun 1990-an ini ramai dikunjungi warga. Di pasar ini terkenal dengan kue-kuenya yang enak dan murah. Banyak pilihan, pengunjung bebas membeli kue jenis apa saja.

“Ada kue basah dan kering. Banyak macamlah di sini,” ucapnya.

Ibu empat anak ini mengaku rata-rata penjual di Pasar Tanjunguma adalah warga asli Tanjunguma yang memang berprofesi sebagai penjual makanan dan kue.

“Alhamdulillah setiap jualan di bulan Ramadan selalu dapat berkah,” ucapnya.

Kehadiran pasar Tanjunguma itu tidak dilewati begitu saja oleh sebagian besar masyarakat Batam.

Meski lokasinya jauh dan harus melewati jalan sempit serta kerap terjebak macet, tidak membuat niat pengunjung surut. Reni, warga Perumahan Belian misalnya, jauh-jauh ke Pasar Tanjunguma hanya ingin berburu lakse dan kue tilam hijau. Padahal pasar lain yang ada didekat rumahnya juga menjual penganan jenis itu.

“Enggak afdol kalau nggak ke sini,” kata Reni yang juga datang bersama kakak dan kedua keponakannya itu.Perempuan 25 tahun ini mengaku setiap Ramadan memang wajib mengunjugi pasar itu.

“Ada yang kurang kalau tak mengunjungi pasar ini,” jelas perempuan berhijab ini.

Hal yang sama juga dikatakan Dewi, warga Bengkong. Meski harus berdesak-desakan bahkan dihadapkan dengan kemacetan, perempuan 29 tahun ini tetap datang karena ingin berburu ikan bakar dan seafood.

“Saya memang sengaja buat beli ikan bakar. Enak lagi terjangkau,” ungkapnya. (une)

Loading...