Rabu, 22 April 2026

Berkomentar Menyinggung di Media Sosial, Warga Sungai Beduk, Batam Minta Maaf secara Terbuka

Berita Terkait

Parno (kiri) ketika mengikuti proses adat di Gedung LAM Batam. Ia meminta maaf atas komentanya yang menuai reaksi masyarakat Melayu.
foto: batampos.co.id / bobi

batampos.co.id – Warga Bida Ayu, Kecamatan Sungai Beduk, Batam, harus menanggung akibat atas komentarnya di media sosial Facebook. Warga yang diketahui bernama Parno, 55, ini akhirnya meminta maaf secara terbuka dalam sebuah pertemuan dengan Lembaga Ada Melayu (LAM) Kota Batam di Gedung LAM pada Senin (13/5).

Parno mengaku membuat komentar menanggapi postingan terkait persoalan Ex Officio yang memang belum lama ini kembali menghangat. Dalam komentarnya tersebut, Parno menyebutkan kata-kata cukup kasar. Walaupun tidak menyebutkan siapa yang ia maksudkan, namun inti dari pernyataanya mengarah pada masyarakat pesisir Batam.

Komentar Parno ini lantas memancing amarah masyarakat pesisir Batam, khususnya masyarakat Melayu yang ada di Kecamatan Sungai Beduk. Masyarakat Melayu yang tergabung dalam berbagai organisasi langsung datang dan meminta Parno menjelaskan komentarnya.

Parno mengaku saat itu menyadari kesalahannya dan ikut bersama rombongan masyarakat ke Polsek Sei Beduk. Di sana ia membuat pernyataan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Melayu. Malam itu juga, dia mengatakan akan meminta maaf secara langsung kepada masyarakat Melayu dalam sebuah pertemuan di gedung LAM.

Parno sendiri mengaku tak menyangka apa yang dikatakannya disambut dengan reaksi tak setuju dari masyarakat Melayu Kota Batam. Ia mengaku tidak berniat menyinggung dan enggan membahas lagi perihal komentar yang ia terlontarkan itu.

“Ini salah saya, saya tidak akan mengulanginya, saya mau minta maaf kepada masyarakat Melayu,” kata Parno ketika ditemui seusai pertemuan di Gedung LAM yang dihadiri Penasehat LAM Kota Batam, Maas Ismail ini.

Dalam pertemuan itu sendiri, Parno mendapat nasehat dari Maas, yang intinya meminta Parno untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang dibuatnya. Maas juga meminta Parno untuk bersama-sama mengajak masyarakat untuk menjaga kerukunan yang ada, sehingga peristiwa yang menimpanya ini tidak lagi terulang kepada orang lain.

Meskipun masyarakat Melayu telah terusik, Maas menjelaskan bahwa pintu maaf selalu terbuka bagi mereka yang tulus mengakui kesalahannya. Kepada Parno, Maas yang memimpin pertemuan tersebut secara langsung menerima permintaan maaf Parno. Ia juga berpesan kepada masyarakat Melayu yang hadir untuk menerima permintaan maaf dari lelaki asal Nganjuk, Jawa Timur ini.

Proses penerimaan maaf itu sendiri dilakukan dengan prosesi adat, dimana Parno diminta untuk bersalaman dengan Maas yang mewakili masyarakat Melayu. Parno mengikuti apa yang diucapkan oleh Maas sebagai ikrar permohonan maaf.

Parno yang ketika itu ditemani oleh salah satu anggota keluarganya, tak kuasa menahan tangis, berulangkali air mata nampak mengalir membasahi pipinya. Sambil menyalami peserta pertemuan, kata maaf terus terucap dari mulut Parno.

Meskipun sudah menjalani proses ini, warga yang tidak puas akan tindakan Parno ini tetap ada. Mereka menganggap permintaan maaf saja tidak cukup, karena Parno telah lancang mengusik marwah masyarakat Melayu. Parno yang akan keluar dari gedung LAM sendiri sempat mendapat hadangan dari massa. Ia yang awalnya akan menemui massa untuk bersalaman, akhirnya kembali dibawa masuk karena ditakutkan memancing amarah warga. (bbi)

Update