Alunan nada-nada musik berirama cepat karya komposer Wolfgang Amadeus Mozart, Rondo Alla Turca mengalun dengan indahnya di dalam gedung teater milik Universitas Universal Batam, Sabtu (11/5) malam.

Suasana pun terasa sangat hening sekali karena ratusan penonton yang hadir sepertinya benar-benar tahu bagaimana cara menikmati musik klasik karya komposer besar asal Austria tersebut.



Malam itu, kelompok orkestra musik klasik, Morale Guitar Quartet mulai menampilkan kebolehannya untuk pertama kali di depan masyarakat Batam. Ya, Morale memainkan sejumlah repetoar klasik, seperti Rondo Alla Turca yang membuat penonton terpukau. Perasaan senang dan sedih menyatu dalam sebuah komposisi alat-alat musik.

Kelompok musikal yang terdiri dari para pelaku seni di Universitas Universal ini menampilkan karya-karya musik klasik dalam acara yang mereka helat dengan mengambil judul Morale Guitar Quartet Recital feat Hitado Orchestra. Dalam acara ini, Morale juga menggandeng kelompok orkestra musik klasik, Hitado Orchestra sebagai pengiring, sehingga jadilah penonton menyaksikan pertunjukan orkestra musikal seperti di Eropa.

Selain itu, bukan hanya musik klasik dari barat yang ditampilkan, tapi juga kearifan lokal ditampilkan lewat performa lagu Medley Nusantara yang dimainakn dalam format gitar kuartet dan orkestra. Medley Nusantara ini terdiri dari sejumlah lagu nasional Indonesia seperti Bungo Jumpo, Inang Sarge, Sik Sik Sibatu Manikam, Ayam Den Lape, Bengawan Solo, Janger, Cik Cik Periuk dan Yamko Rambe Yamko

Morale Guitar Quartet dipimpin oleh dosen mayor gitar Universitas Universal Batam, Erwin Pauji Sirait sejak dibentuk pada tahun 2018. Ia juga yang membentuk Hitado Orchestra pada 14 April 2018. Pria kelahiran Serdang Anak-Anak, Kisaran, Sumatera Utara, 3 September 1988 ini merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia sangat ahli dalam mayor gitar klasik dan mahir memainkan alat musik lain seperti saksofon, seruling dan lainnya.

Foto: batampos.co.id / dalil harahap

“Saya belajar mayor gitar klasik di bawah bimbingan Royke B Koapaha dan Rahmat Raharjo dan pernah mengikuti masterclass Thibaut Cauvin dari Prancis dan Imam Prabowo,” papar Erwin saat memulai pembicaraan dengan pewarta koran ini.

Di Morale Guitar Quartet, ia membentuk kuartet gitaris bersama dengan tiga mahasiswanya di Universitas Universal yakni Giovanni Lauren, Adi Saputra dan Bethoven Kharisma. Kuartet gitaris ini menjadi pemain panggung utama dalam acara ini dengan dukungan penuh dari Hitado. Morale sama seperti Hitado, latar belakang pendiriannya yakni untuk memberikan wadah bermusik bagi para generasi muda.

Khusus untuk Universal, perguruan tinggi ini merupakan satu-satunya di Batam yang memiliki program studi seni musik dan juga seni tari di Batam. “Universal ini memiliki visi bahwa pada tahun 2045 nanti akan menjadi perguruan tinggi terkemuka, memiliki jaring global serta memberikan kontribusi dan menyelsaikan masalah dan tantangan padat di tingkat nasional dan internasional berdasarkan nilai peradaban baru dunia satu keluarga,” kata Erwin.

Ia kemudian melanjutkan bahwa Morale ini hanyalah wadah bermusik untuk mengasah bakat dan kemampuan.”Kurangnya wadah bermusik di Batam khususnya musik klasik barat di Batam menjadi alasan mengapa Morale Guitar Quartet dibentuk, agar mahasiswa musik khsususnya mahasiswa mayor guitar mendapatkan tempat untuk mengasah kemampuannya,” ungkapnya.

Berbeda dengan Morale yang merupakan kelompok musik dari kalangan mahasiswa, maka Hitado diisi oleh para pelaku seni yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan pegawai dan pengusaha. Ada yang merupakan pegawai perbankan, pengusaha travel dan pegawai Pemerintah Kota Batam. Selebihnya adalah instruktur dan guru musik di sekolah musik dan sekolah menengah atas (SMA) dan setingkatnya.

“Hitado ini untuk melampiaskan keingingna para pemain yang rata-rata adalah guru musik. Mereka ingin berkarya dan tampil. Bosan ngajar mulu, jadi ingin sesuatu yang beda,” katanya.

Meskipun berasal dari latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda, mereka tetap bisa kompak. Pada awalnya, memang mereka kesulitan karena faktor kedisplinan yang memang menjadi kunci utama memainkan musik klasik.”Musik klasik ini merupakan fondasi bermain musik selanjutnya. Silabusnya sudah tertata sehingga ada tingkatannya,” ujarnya.

Kemudian, sikap disiplin dalam mematuhi rambu-rambu yang berlaku. “Musik klasik ini yang buat itu komposer-komposer besar seperti Mozart, Bach, Albeniz dan lain-lain yang dikemas dalam bentuk orkestra sehingga terdengar megah dengan aransemen serta komposisi yang berbeda,” katanya lagi.

Memang, ketika mendengar musik klasik akan terasa bahwa iramanya terdengar sangat murni seperti mendapat ilham dari sang khalik. Dan masing-masing komposer memang punya ciri khas yang hanya bisa dipahami oleh pecinta musik klasik.

“Itu karena para komposer besar benar-benar butuh waktu dan penghayatan dalam melahirkan sebuah simfoni yang abadi,” jelasnya.

Dengan mematuhi rambu-rambu yang ada serta berlatih dengan serius, maka dalam penampilan Sabtu lalu, segala macam perbedaan dari para anggota Hitado itu menemui keharmonisan dalam satu panggung. Musik klasik yang indah seperti kembali menemui penciptanya.

Morale dan Hitado merasa sangat diapresiasi sekali bahwa selama penampilannya di panggung, tidak ada suara bisik-bisik atau tepuk tangan sebelum lagu usai. Erwin mengungkapkan saat yang terindah bagi musisi di panggung yakni tatkala ketika sudah selesai memainkan lagu, maka disambut oleh tepuk tangan penonton.

“Bagi kami para musisi, tidak ada yang lebih menggembirakan dibanding mendengar tepuk tangan penonton. Itu sama sekali tidak ternilai dengan uang,” ungkapnya.

Erwin kemudian bercerita agak mundur kebelakang. Pada awalnya, respon masyarakat Batam saat diperkenalkan dengan musik klasik sebenarnya sangat mendukung, tapi belum sampai pada dukungan moril. Sehingga untuk menggelar recital pertama, banyak kendala yang menghinggapi Erwin dan teman-temannya.

Kendala pertama adalah lokasi latihan. Mereka hanya bisa berlatih hingga pukul 10 malam, jika berlatih di gedung universtas. Kendala kedua adalah waktu. Karena kesibukan masing-masing anggotanya, maka sulit menemukan kesempatan untuk berlatih bersama. Dan kendala terakhir adalah dana, karena butuh dana besar untuk menggelar recital.

Sebagai solusi, maka dibutuhkan keberanian. Selain mengumpulkan iuran per bulan selama tujuh bulan, Erwin dan teman-temannya rela turun ke jalan untuk mengamen.

“Saya bawa ngamen cari dana sebanyak tiga kali di Pasar Mega Legenda. Tapi ngamennya bawa saksofon biar tak sepele. Syukurnya dana itu bisa terkumpul untuk dana recital dan serta promosi kampus dan MGO juga,” katanya sambil tertawa.

Untuk waktu dan lokasi latihan, mereka berupaya memaksimalkan waktu tiga kali dalam selama tujuh bulan dengan memakai jam praktik kuliah. Sedangkan untuk latihan orkestra sendiri dipersiapkan selama satu bulan.seminggu untuk latihan. Tapi dengan tepuk tangan penonton yang membahana, semua jerih payah itu terjawab semua.

“Ini semua untuk membangun semangat bermusik. Supaya lebih intens dan aktif berkarya. Saya hidup dari musik dan teman-teman musisi juga. Maka seharusnya kita memberikan sesuatu untuk musik itu sendiri,” ucapnya. (leo)

 

Loading...