Kondisi Dam Harapan yang masih menanti revitalisasi dari pemerintah

Batam yang dirancang sebagi kota industri, berdampak pada laju pertumbuhan penduduk yang melesat dengan pesat. Penduduk dari berbagai daerah di Indonesia tertarik pindah ke Batam untuk meraih kesempatan kerja dan membuka usaha. Akibatnya, kebutuhan air bersih pun kian meningkat dari tahun ke tahun.

Sementara, Batam tidak memiliki mata air. Hanya mengandalkan air hujan yang ditampung di dam sebagai sumber air baku. Sejak mendapatkan mandat mendistribusikan air bersih di Batam, PT Adhya Tirta Batam (ATB) mengolah dam yang ada untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Ada hal yang harus dipahami oleh masyarakat mengenai air bersih di Batam. Berdasarkan konsesi, ATB hanya berperan sebagai pengelola air bersih, sedangkan air baku tetap dibawah kewenangan pemerintah.

Tentu saja hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan Bumi,air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara. Berdasarkan hal itu, jelas perbedaan peran antara pemerintah dengan ATB. Pemerintah bertanggung jawab menyediakan serta menjaga air baku. Sedangkan ATB berperan mengolah dan mendistribusikan air bersih ke pelanggan.

Perkembangan industri dan pertumbuhan penduduk semakin pesat, namun cadangan air baku belum bertambah. Batam masih mengandalkan kemampuan Dam Duriangkang, Dam Muka Kuning, Dam Nongsa, Dam Sei Ladi dan Dam Sei Harapan untuk memenuhi kebutuhan suplai air bersih seluruh masyarakat Batam.

Ketika curah hujan minim, ketersediaan air baku semakin menipis karena terus disedot untuk mencukupi kebutuhan pelanggan. Belum lagi kondisi pendangkalan akibat kerusakan lingkungan dan aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab di sekitar daerah tangkapan air, membuat kondisi dam semakin memprihatinkan. Dam-dam di Batam yang sebelumnya bergelimang air, harus berhiaskan hamparan tanah tandus di tepiannya. Air dam menyusut drastis.

Dam Sei Harapan bahkan sudah masuk fase kritis. Jika intensitas curah hujan rendah dan revitalisasi dam tidak segera dilakukan oleh pemerintah, Dam Sei Harapan terancam lumpuh. Lumpuhnya satu dam akan berdampak krisis seluruh wilayah Batam. Meski hujan turun beberap waktu terakhir, namun intensitasnya tidak sebanding dengan kecepatan penurunan air baku. Sehingga langkah penggiliran air bersih (Water Rationing) terpaksa diambil ATB, demi mempertahankan ketersediaan air baku.

Gempuran pendangkalan, alih fungsi daerah tangkapan air hingga kebakaran hutan sekitar Dam Sei Harapan menjadi masalah serius yang harus segera ditemukan solusinya. Revitalisasi Dam Sei Harapan tidak boleh ditunda-tunda lagi. Rationing diberlakukan hanya sebagai solusi sementara untuk memperpanjang usia pemakaian air baku.

Dam Sei Harapan menanti upaya revitalisasi dari pemerintah secara reguler agar kemampuan daya tampung airnya bisa maksimal. Pemerintah harus peduli dengan pengaturan jumlah penduduk agar air baku dapat mencukupi kebutuhan Batam. Begitu juga dengan pengaturan alokasi lahan dan pengaturan pembuangan limbah agar air tidak terkontaminasi dengan sampah dan dan zat-zat berbahaya.

Rationing bukan bertujuan melarang pelanggan menggunakan air. Namun mengingatkan pelanggan untuk dapat mensiasati penggunaan air agar lebih hemat. Krisis air bukan kesalahan produksi dan pendistribusian air bersih. Namun karena berkurangnya jumlah air baku akibat volume air di dam menyusut. Bertoleransi dalam menampung dan menggunakan air seperlunya, bukan secukupnya. (*)