Sejumlah pengunjung berbelanja di pusat perbelanjaan kawasan BSD, Tangerang, beberapa waktu lalu.Tingginya permintaan menjelang Lebaran, kain dan pakaian jadi impor dari Tiongkok terus menggempur Indonesia. Foto: Andrianto/ indopos/jpg
batampos.co.id – Neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 mengalami defisit terbesar sepanjang sejarah. Angkanya mencapai USD 2,50 miliar. Defisit itu didorong nilai ekspor yang turun lebih dalam dibanding impor.
Pada April lalu, nilai ekspor tercatat USD 12,6 miliar. Angka tersebut turun 13,10 persen dibanding ekspor pada April 2018. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, hal itu disebabkan beberapa faktor. Yakni, ekspor yang melemah sekaligus meningkatnya impor menjelang Ramadan yang jatuh pada Mei.
’’Tapi, ini perlu diantisipasi karena tantangan perdagangan global ke depan semakin sulit akibat perang dagang,’’ katanya, Rabu (15/5/2019). Ekonom Bank Mandiri Dendi Ramdani mengungkapkan, defisit neraca dagang pada April lalu dipicu anjloknya kinerja ekspor, khususnya komoditas batu bara dan CPO.
Selain dua komoditas tersebut, ekspor migas turun cukup dalam. ’’Ini (defisit) karena efek harga dua komoditas yang anjlok,’’ jelasnya kemarin. Dendi memprediksi kinerja neraca dagang belum akan membaik di semester II tahun ini. Dia menyebut cukup sulit bagi ekspor untuk recovery karena harga komoditas diperkirakan masih rendah.
Karena itu, pihaknya menilai harus ada alternatif komoditas ekspor selain CPO dan batu bara. ’’Ekspor alternatif yang digenjot seperti garmen atau otomotif untuk mengompensasi penurunan komoditas,’’ tambahnya.
Sementara itu, seiring tingginya permintaan menjelang Lebaran, kain dan pakaian jadi impor dari Tiongkok terus menggempur Indonesia. Kementerian Perindustrian menyebut pihaknya akan meminta Direktorat Jenderal Bea Cukai mengevaluasi produk kain dan pakaian jadi di Pusat Logistik Berikat (PLB).
Harapannya, arus impor produk-produk tersebut dapat ditekan agar penyerapan barang dalam negeri bisa optimal. Direktur Jenderal IKM dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, saat ini impor kain dan pakaian jadi asal Tiongkok memang marak didorong perjanjian kerja sama dagang.
’’Membuat produk-produk asal Tiongkok lebih mudah masuk ke tanah air,’’ katanya, kemarin. Berdasar data BPS, impor total tekstil dan produk tekstil pada April 2019 naik 64,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari data BPS juga disebutkan bahwa impor filamen buatan Tiongkok tercatat USD 320,82 juta pada April.
Filamen buatan merupakan jenis benang yang digunakan untuk membuat kain. Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan bahwa masuknya produk kain dan pakaian jadi asal Tiongkok disebabkan adanya permintaan dari para importir lokal.
’’Produknya macam-macam. Ada baju harian. Ada juga importir baju koko,’’ ucap Ade.
Ade sendiri mengatakan belum bisa memetakan jumlah peningkatan secara persentase produk impor yang masuk selama periode Ramadan.
’’Belum update datanya berapa besar impornya di bulan Ramadan. Karena bukan hanya Ramadan saja kan, setiap bulan juga impor,’’ paparnya.(rin/ken/agf/c15/oki)
Loading...