batampos.co.id – Maskapai sebagai operator harus memutar otak agar bisnisnya tetap berjalan pasca penurunan tarif batas atas (TBA). Ketua Umum Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi khawatir jika masyarakat kembali jadi korban atas kebijakan tersebut.

Menurut Tulus upaya Kementerian Perhubungan untuk mendengarkan aspirasi publik agar tarif pesawat turun patut diapresiasi. ”Namun, upaya menurunkan persentase TBA harus punya justifikasi yang jelas dan rasional, bukan berbasis tekanan masyarakat semata,” ucap Tulus, Jumat (17/5). Yang harus diperhatikan selan-jutnya adalah aspek perlindu-ngan konsumen.

Dia merincikan dalam UU Penerbangan Pasal 127 ayat 2, yang dimaksud perlindungan konsumen adalah melindungi konsumen atas pemberlakuan tarif tinggi oleh badan usaha angkutan udara niaga.

Maskapai penerbangan memilih untuk mengurangi rute penerbangan agar bisnisnya tetap berjalan pasca penurunan tarif batas atas (TBA). foto: batampos.co.id / putut ariyotejo

Selain itu juga melindungi konsumen dari tarif mahal akibat persaingan tidak sehat dan informasi tarif yang menyesatkan bagi konsumen. ”Tidak ada perintah secara tersurat dan atau tersirat bahwa aspek daya beli konsumen menjadi pertimbangan dalam menentukan TBA pesawat. Pertimbangan Menhub bahwa reformulasi TBA pesawat adalah dalam rangka mempertimbangkan aspek daya beli masyarakat adalah hal yang absurd,” ungkapnya.

Tulus khawatir banyaknya anomali di balik kebijakan revisi TBA pesawat ini bisa berbuntut panjang. Apalagi jika nantinya merugikan kepentingan publik. Misalnya saja dengan menutup rute-rute yang dianggap yang tidak menguntungkan.

”Mungkin juga akan mengurangi jumlah penerbangan sekalipun untuk jalur-jalur gemuk,” ucap Tulus. Dia menambahkan, penurunan TBA bisa mengancam keselamatan penerbangan karena bisa jadi maskapai akan me-ngurangi biaya perawatan.

Sejalan dengan Tulus, pengamat penerbangan Alvin Lie juga mengkhawatirkan maskapai akan menurunkan kualitas pelayanan dan kenyamanan. Hal itu untuk menghemat biaya operasi.

”Penurunan ini tidak terlalu terasa bagi konsumen namun terlalu berat bagi airlines,” tuturnya saat dihubungi, kemarin. Menurutnya, kalau ingin harga tiket bisa turun caranya menaikkan acuan cost per seat per kilometer.

Hal itu terlihat bahwa TBA akan naik. Namun, pihak maskapai akan mampu meraih laba saat peak season dan bisa  menurunkan harga ke level bawah saat low season. ”Subsidi silang menggunakan laba yang diraih saat peak season. Harga tiket bisa fleksibel lagi seperti dulu,” tuturnya.

Dengan TBA yang diturunkan, maka bisa jadi maskapai tetap menjual tiket pada kisaran batas atas sepanjang tahun. ”Harga tiket malah jadi tidak fleksibel,” ungkapnya. Dia juga khawatir akan ada pemangkasan rute yang tidak memiliki banyak penumpang.

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham mengungkapkan bahwa penerbangan pada rute-rute sepi memang merugikan perusahaan. Dia mencontohkan penerbangan ke Maumere yang selama ini mendapatkan subsidi dari Garuda.

Rata-rata penerbangan ke tempat tersebut hanya mengangkut 30 sampai 40 orang.
“Setiap penerbangan disubsidi Rp 50 juta,” kata Pikri. Namun, dia meyakinkan bahwa penurunan TBA tidak lantas menurunkan aspek keselamatan. Dia memilih untuk memangkas biaya organisasi seperti pengurangan jumlah direksi dan komisaris. Serta meningkatkan pendapatan lain. Misalnya biaya pengangkutan kargo.(lyn)