Rabu, 22 April 2026

Hati-hati di Batam Ada Buah-buahan yang Disuntik Pewarna Tekstil

Berita Terkait

batampos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam kembali menemukan penggunaan bahan berbahaya pada makanan. Kali ini, ditemukan pewarna tekstil yang diduga disuntikkan pada buah utuh.

Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan buah tersebut ditemukan di salah satu pasar di kawasan Sekupang. ”Memang ada kemarin temuan itu. Saat ini lagi kami komunikasikan bersama BPOM (Balai Pengawas Obat dan Makanan) Batam dulu,” katanya, Jumat (17/5/2019).

Saat ini pihaknya masih menyelidiki dari mana asal buah tersebut. Menurutnya, buah-buahan yang beredar tidak hanya berasal dari Kota Batam saja, melainkan ada yang dari impor.

”Kalau di Dinkes kan tidak ada penindakan, jadi pedagang yang menjual itu akan kami berikan bimbingan,” sebutnya. Didi menjelaskan, saat ini banyak buah-buahan yang memiliki warna sangat mencolok dari aslinya.

Ilustrasi buah-buahan. Foto: Dokumentasi Jawa Pos

Kata Didi, apabila ada buah-buahan yang dicampur bahan berbahaya sudah melanggar Undang-Undang tentang Pangan dan tentu sangat merugikan masyarakat. Tidak itu saja, saat ini juga ada buah yang diberikan pengawet agar bisa bertahan lebih lama.

Karena itu, Didi mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih buah yang akan dikonsumsi. ”Kalau dari warna sudah pasti lebih mencolok. Maka-nya kalau membeli buah, perhatian juga warnanya,” ujarnya.

Selain itu kata Didi, ada juga buah yang mengandung lilin agar lebih awet. Sebelumnya, Dinkes Batam juga menemukan kandungan formalin dan pewarna tekstil pada jajanan takjil dan bakso.

Hasil ini didapat setelah petugas dari salah satu Puskemas di Batam turun dan mengambil sampel makanan. Ia berharap, dengan adanya temuan ini pedagang jadi lebih peduli kepada pembeli.

Jangan karena ingin mengambil keuntungan malah merugikan keselamatan pembeli.
”Kalau kami ngasih edukasi saja, karena tidak bisa menindak. Kesulitan lainnya, banyak pedagang yang berjualan pindah-pindah, jadi sulit untuk mengontrolnya,” tambahnya.

Belum Temukan Takjil Berbahaya

Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kepulauan Riau telah memeriksa takjil dan makanan di beberapa kawasan, mulai dari Batu Besar, Botania, Nagoya dan Tiban Center.
Dengan menggunakan alat rapid test.

Namun hingga kini BPOM Kepri mengaku belum menemukan adanya takjil yang mengandung bahan berbahaya. ”Sejauh ini, kami tidak ada temukan,” kata Kepala BPOM Kepri Yosef Dwi Irawan.

Yosep mengatakan, dari setiap pusat jajanan takjil, ada ratusan sampel yang diambil oleh BPOM Kepri. Dan, dipastikan di empat kawasan yang telah dilakukan pemeriksaan tersebut, belum ditemukan yang membahayakan.

”Ke depan, kami akan terus melakukan pengawasan dan pemeriksaan,” ucapnya.
Terkait dengan temuan Dinkes Batam, Yosef mengatakan, akan berkoordinasi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

”Nanti, kami akan coba koordinasikan dengan Dinas Kesehatan,” tuturnya.
Yosef mengaku sangat senang dengan banyaknya instansi terkait yang turun melakukan pengawasan makanan di Batam.

”Semakin banyak yang turun, semakin bagus pengawasannya,” ucapnya. Yosef meminta konsumen harus cerdas. Dapat menilai mana makanan yang sehat dan tidak. Apabila makanan itu terlihat kotor, sebaiknya jangan dibeli.

Pasalnya, salah satu ciri makanan sehat adalah yang terjamin kebersihan dan higienisitasnya. ”Masyarakat perlu mengetahui ciri-ciri makanan mengandung bahan berbahaya, seperti tidak dihinggapi lalat, kelihatan lebih mengkilap, rasanya lebih renyah. Kalau menemukan itu, patut diduga,” ujar Yosef.

Yosef menambahkan, jika menemukan atau mencurigai adanya makanan yang tak biasa dan kemungkinan mengandung bahan berbahaya, masyarakat bisa melaporkan temuan tersebut ke BPOM Kepri. Karena, untuk memastikannya diperlukan tes di laboratorium. ”Tes tersebut untuk menentukan apa saja bahan yang terkandung dalam makanan itu,” tuturnya.(yui/ska)

Update