batampos.co.id – Tuntutan perusahaan besar sekaliber Caterpillar yang ingin memindahkan usahanya dari Asia Pasifik ke Batam membuat Badan Pengusahaan (BP) Batam akan memperlebar jalan di kawasan industri di Tanjunguncang.

“Catterpilar itu mau pindah ke Batam dalam waktu dekat. Mereka bawa escavator 36 meter kubik. Sehingga mereka perlu jalan yang besar,” kata Kasubdit Pembangunan Jalan, Jembatan dan Transportasi Massal, Boy Zasmita, Senin (20/5) di Gedung Marketing BP Batam.

Jalan tersebut akan ditingkatkan dari lebar enam meter menjadi 14 meter tanpa median dengan nilai pagu anggaran Rp 4,1 miliar.

“Banyak kawasan industri dibangun jalan dan habiskan Rp 200 miliar baik itu di Kabil, Tanjunguncang dan Batamcentre,” ucapnya lagi.

Perlu diketahui, PT Caterpillar Indonesia merupakan investor terbesar di Batam selama lima tahun terakhir. Nilai investasinya mencapai 216,390 juta Dolar Amerika.

Caterpillar merupakan produsen peralatan konstruksi dan pertambangan, alat berat, engine diesel dan gas alam, turbin gas industri serta lokomotif diesel-listrik terbesar di dunia.

Selain peningkatan jalan di kawasan industri Tanjunguncang yang rencananya akan dikerjakan selama empat bulan nanti, selanjutnya adalah pelebaran jalan kolektor Hang Kesturi di Kabil dan kawasan industri Sekupang.

“Khusus untuk di Sekupang, masih dalam penyusunan dokumen. Nilai pagunya Rp 10,7 miliar, tapi kami belum dapat pemenang,” ucapnya.

Sedangkan di Kabil, nilainya sekitar Rp 9,5 miliar dan dikerjakan Barelang Konstruksi. Setelah itu pembangunan jalan tahap kedua di kawasan indsutri Batamcentre dan di depan Perumahan PLN.

Nilai pagu anggarannya sektiar Rp 6 Miliar dan akan dikerjakan Cipta Cakrawala Teknis. Boy menyebut bahwa proyek-proyek ini membutuhkan waktu enam bulan untuk menyelesaikannya.

“Pagi siang sore macet, kami selesaikan tahun ini. Akhir bulan mulai kontrak setelah proses lelang selesai,” katanya.

Berikutnya adalah pengembangan Jalan Industri Tanjunguncang Tahap 2 yang akan dikerjakan Muktisindo Internasional dengan nilai anggaran Rp 3,4 miliar.

“Lalu peningkatan industri Sagulung Tanjungucang Sei Lekop Tahap dua sepanjang 2,3 kilometer dengan anggaran Rp 582 miliar,” katanya.

Kondisi jalanan di kawasan industri yang buruk memang dikeluhkan pengelola kawasan industri. Contohnya pengelola Kawasan Industri Kabil. Direktur Kabil Citra Nusa yang mengelola kawasan industri Kabil, Peter Vincent pernah mengatakan Kondisi Jalan Hang Kesturi, Nongsa yang buruk sudah lama menghantui industri di Kabil.

Karena hal tersebut, banyak perusahaan mi-nyak dan gas (migas) yang tidak melirik investasi di Batam karena jalanannya dianggap berbahaya sehingga tidak aman.

”Kendala utama kita adalah jalan yang tidak layak karena sering rusak berat ketika banjir,” ucapnya.

Peters mengatakan, saat kondisi puncak, yakni ketika banyak perusahaan yang memberlakukan over time (OT), maka jumlah orang yang ada di KITK bisa mencapai 25 ribu, baik itu pekerja pabrik, karyawan kantor, pedagang, dan lainnya.

”Sehingga saat ramai sering terjadi kecelakaan,” ucapnya.

Karena realita ini, banyak perusahaan migas internasional yang menganggap KITK gagal memenuhi standar keamanan bagi para pekerja.

”Ketika perusahaan migas dunia mau kasih pekerjaan, kami gagal penuhi karena jalannya yang tidak aman. Makanya kami sangat mendukung jika pemerintah mau membangun jalan yang layak agar perusahaan di Kabil bisa dapat pekerjaan lebih mudah,” paparnya. (leo)