batampos.co.id – Kampung Monggak Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, adalah kampung di pesisir Kota Batam yang dihuni oleh masyarakat dengan pekerjaan mayoritas nelayan.

Meski begitu, Kampung Monggak tidak memiliki pelabuhan seperti kampung nelayan lainnya. Padahal pelabuhan menjadi salah satu kebutuhan bagi nelayan, terlebih untuk daerah dengan jarak antara tubir dan pemukiman yang cukup jauh seperti Kampung Monggak ini.

Loading...

Para nelayan pun mau tidak mau harus mengarungi lumpur untuk sampai ke sampan  yang berada jauh dari kediaman mereka ketika air surut. Ironisnya, terkadang mereka tidak bisa melaut karena sampan para nelayan tersebut berada di darat, sementara air sudah jauh surut.

“Kita pikir air masih dalam, padahal sudah surut jauh, mana kuat kalau dorong sendiri,” kata Zubair, 41, salah satu nelayan di Kampung Monggak kepada batampos.co.id, Senin (20/5/2019).

Indra,salah seorang nelayan di Kampung Monggak terpaksa melintasi lumpur karena tidak ada pelabuhan di kampung mereka. Di Kampung Monggak mayoritas masyarakat beraktivitas sebagai nelayan. Foto: Bobi/batampos.co.id

Hal lain yang sering dikeluhkan, adalah ketika mereka kembali pada malam hari sehabis melaut. Mereka harus mengarungi lumpur dan meninggalkan sampan mereka jauh ke laut.

Padahal kata Zubari, jika ada pelabuhan kondisi itu tidak perlu dialami warga. Warga tinggal singgah ke ujung pelabuhan dan menambatkan sampan mereka di sana, lalu berjalan tanpa perlu mengarungi lumpur yang cukup menguras tenaga.

Mereka bukannya tidak berupaya untuk meminta bantuan pelabuhan, hanya saja sampai saat ini belum ada realisasi dari permohonan tersebut. “Pelabuhan menjadi salah satu kebutuhan bagi para nelayan,” jelasnya.

Zubair melanjutkan, sebelumnya di kampung tersebut sudah memiliki pelabuhan yang terbuat dari kayu. Namun pelabuhan tersebut sudah lama roboh.

Menurutnya, ketika masih ada pelabuhan tersebut, tidak hanya masyarakat Kampung Monggak saja yang terbantu, warga lain yang datang melalui jalur laut juga dimudahkan karena ada tempat mereka menambatkan kapal mereka.

“Kadang kita malu juga, orang dari kampung lain bingung mau singgah di mana karena tak ada pelabuhan. Di kampung-kampung lain rata-rata sudah ada pelabuhan, bagus-bagus lagi,” tutur Zubair.(bbi)

Loading...