batampos.co.id – Memasuki pekan ke tiga Ramadan, jumlah pemudik melalui Bandara Hang Nadim Batam masih sepi. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelum­nya, jumlahnya turun hingga 2.000 penumpang lebih.

Direktur Badan Usaha Bandara Udara Hang Nadim Batam, Suwarso, menyebutkan pada Jumat (17/5) lalu tercatat ada 6.031 penumpang yang meninggalkan Batam melalui Hang Nadim. Lalu pada Sabtu (18/5) sebanyak 5.287 penumpang, dan Minggu (19/5) tercatat ada 5.440 penumpang.

“Kalau dibandingkan tahun lalu, memang turun. Tahun lalu itu, di periode ini jumlah penumpang sudah merangkak naik ke angka 8 ribu orang,” kata Suwarso, Senin (20/5).
Sepanjang satu pekan ke depan, menurut Suwarso, tetap belum ada lonjakan penumpang.

Jumlahnya diperkirakan sekitar 6.000-an penumpang per hari. Lonjakan arus mudik diprediksi baru akan terjadi pada H-7 Lebaran. Itupun diperkirakan jumlahnya hanya sekitar 7.000-an penumpang.

“Puncak arus mudik saja, kami prediksi angkanya tidak seperti tahun lalu. Tahun lalu itu bisa mencapai 10 ribuan orang saat puncak arus mudik. Tahun ini hanya di kisaran 8 ribuan orang,” ucap Suwarso.

Kondisi ini sesuai dengan jumlah pesawat yang berangkat. Suwarso mengatakan, walaupun sudah memasuki awal minggu ketiga, masih banyak maskapai tidak memaksimalkan jadwal penerbangan yang dimiliki.

“Masih banyak yang urung memaksimalkan jadwal penerbangannya. Lihat saja, masih ada pembatalan 14 hingga 15 penerbangan seharinya,” ujar Suwarso.

Pengurangan jadwal penerbangan ini disebabkan kurangnya animo masyarakat menggunakan transportasi udara.

Apabila animo masyarakat tinggi, pastinya maskapai akan memaksimalkan jadwal penerbangan dimilikinya.

“Penumpangkan sepi. Sehingga maskapai mengurangi frekuensi penerbangan mereka ke beberapa rute-rute tertentu,” tuturnya.

Suwarso mengaku belum bisa memprediksi, kapan frekuensi penerbangan dari Hang Nadim akan normal sesuai jadwal yang ada.

“Kami masih melakukan pemantauan,” ungkapnya.

foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Masih minimnya pemudik melalui bandara ini disebabkan tingginya harga tiket pesawat. Sehingga, sebagian warga Batam yang akan mudik Lebaran memilih bebe-rapa alternatif. Salah satunya dengan kapal Pelni. Sayangnya, pelayanan dan kondisi pelabuhan kapal Pelni di Batuampar, Batam, dinilai masih kurang memadai.

“Saya turun ke sana dengan beberapa orang anggota Komisi III DPRD Kepri. Kondisinya miris dan buat kami sedih,” kata anggota Komisi III DPRD Kepri Irwansyah, Senin (20/5).

Politikus PPP itu menyebut, gedung terminal keberangkatan dan kedatangan di pelabuhan Pelni tersebut sangat tidak nyaman. Selain kondisinya panas dan pengap, tidak tersedia kursi yang cukup untuk duduk calon penumpang.

“Gedung kecil, panas. Apalagi gedung ini dijejali ratusan orang, pastinya bikin sesak,” ujarnya.

Pelabuhan ini, menurutnya, tidak layak menjadi pelabuhan penumpang. Namun, kondisi ini terkesan diabaikan oleh pemerintah. Ia menilai tak banyak perhatian pemerintah tercurah untuk mencarikan solusi atas permasalahan di pelabuhan Pelni tersebut.

“Pemerintah daerah selaku yang memiliki rakyat harus memperhatikan detail ini. Tapi ini terbaikan,” tuturnya.

Atas permasalahan ini, Irwansyah mengaku akan mengadukankannya ke Kementerian Perhubuangan. “Ini kami sesalkan. Tidak pernah diantisipasi. Lagian pelabuhan tetap untuk penumpang kapal Pelni hingga sekarang tidak jelas,” pungkasnya.

Roro Lebih Terjangkau

Selain kapal Pelni, warga Batam yang ingin mudik ke kampung halaman juga memiliki alternatif moda transportasi laut berupa kapal roll on roll off (Roro). Sebab harga tiket kapal Roro jauh lebih terjangkau, apalagi jika dibandingkan dengan harga tiket pesawat.

Seperti yang dilakukan Ade, warga Batam yang hendak pulang ke Padang, Sumatera Barat. Ia memilih menggunakan jasa kapal Roro karena alasan tiket yang murah.

“Tiket Roro hanya Rp 98 ribu per orang, sementara pesawat Rp 3 juta,” ujar Ade, warga Perumahan Odessa, Batam Center, Senin (20/5).

Ade juga mengaku rela menghabiskan waktu lebih lama untuk perjalanan jalur laut demi bisa Lebaran bersama keluarga di kampung halaman. Menurut dia, perjalanan dari Batam ke Buton dengan kapal Roro akan memakan waktu 18 jam. Lalu ia akan melanjutkan perjalanan darat menuju Padang yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 8 jam lagi.
Namun, bagi Ade hal itu tak masalah. Sebab jika menggunakan pesawat, meskipun jauh lebih cepat, biayanya bekali-kali lipat lebih mahal.

“Yang pulang kampung ada lima orang. Kalau pakai pesawat nggak cukup dananya,” ucapnya.

Warga lainnya, Ellin, juga harus beralih menggunakan jalur laut agar bisa pulang ke Medan.

“Tiket pesawat ke Medan mahal. Lebaran biasa dapat Rp 1 juta, sekarang naik dua kali lipat,” katanya. (ska/une)