batampos.co.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam memutar otak agar kekurangan tenaga pendidikan di daerah tersebut dapat di atas sesegera mungkin. Salah satunya dengan meminta satu guru untuk mengajar di dua sekolah. Terlebih pada Juli nanti tahun ajaran baru sudah mulai berjalan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, mengatakan kekurangan tenaga pengajar dikarenakan saat ini ada beberapa sekolah baru. “Saya berharap guru yang mengajar di SD bisa mengajar di SMP dan itu tidak ada masalah. Selagi tidak melanggar jam kerja, mereka diperbolehkan,” katanya, Senin (20/52019).

Hendri menyebutkan, salah satunya diberlakukan di SMPN 59 Batam yang masih menumpang di SD terdekat. Tenaga guru di SD tersebut untuk sementara bisa membantu mengajar siswa yang baru masuk SMPN 59.

Murid SDN 019 Perumahan Villa Mukakuning, Tembesi, Sagulung bersalaman dengan gurunya. Foto: Dalil Harahap/batampos

“Kalau untuk ilmu pengetahuan kan tidak jauh berbeda dari kelas VI SD ke kelas I SMP. Secara keseluruhan bahan ajaran tidak jauh berbeda,” jelasnya. Menurutnya, saat ini daerah masih belum diperbolehkan menerima guru honorer.

Selain itu, melihat kemampuan anggaran daerah yang tersedia juga dinilai tidak memungkinkan untuk menambah tenaga honorer baru. “Solusi lainnya dari pembukaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) seperti tahun lalu, kami dapat bantuan sekitar 200 lebih guru PNS,” imbuhnya.

Solusi lain mengatasi kekurangan guru yaitu, pemerataan tenaga guru yang berlebih di beberapa sekolah untuk dipindah tugas mengajar ke sekolah yang kekurangan guru. “Jadi sekolah yang berlebih gurunya akan kami pindahkan untuk membantu proses belajar mengajar ke sekolah yang kurang gurunya,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Batam, Rustam Efendi, mengungkapkan metode guru mengajar di dua sekolah berbeda tingkatan sebenarnya sudah diterapkan di Batam.

Seperti, sekolah satu atap yang terdiri dari SD dan SMP. Tenaga guru yang bertugas di sekolah tersebut memang mengajar di dua sekolah sekaligus. “Misalnya di Bulang dan Ngenang itu sudah jalan. Ini bisa jadi solusi pengentasan persoalan kekurangan guru di sekolah,” ujarnya.

Pihak sekolah bersama guru tinggal memetakan jam kerja guru yang akan bertugas. Kalau ini diterapkan, tentu tidak akan ada lagi sekolah yang akan kekurangan guru. “Bagus juga kalau diterapkan. Karena sebagian sekolah sudah menjalankan ini dan itu tidak ada masalah asal tidak melanggar jam kerja guru yang bersangkutan,” bebernya. (yui)