Pesta demokrasi terbesar di negeri ini sudah memasuki masa akhir. Saat ini, masuk injury time.

Berbulan-bulan lamanya bangsa Indonesia “terbelah”. Beda dukungan. Masing-masing punya pilihan. Ada yang pro sini dan situ.

Babak pertama sudah dilalui. Meskipun diselimuti banyak sorotan, babak ini berjalan dinamis. Yakni pencoblosan. Tanggal 14 April 2019 lalu. Kalau mengacu film Avengers, babak pertama ini diistilahkan “Infinity War”.

Biar tidak terkesan jiplak, babak pertama pesta demokrasi ini saya beri nama “Democracy War”.

Babak ini meliputi masa kampanye hingga pencoblosan. Berbagai drama selama proses penentuan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres), serta calon anggota legislatif (caleg) dari berbagai tingkatan, terjadi pada babak ini.

Saling serang terjadi. Dari urat syaraf hingga “fisik”. Namun, fisik yang saya maksud bukan berantem atau tawuran. Lebih pada personal. Entah siapa yang memulai, semua hal yang berkaitan dengan capres jadi bahan bully. Dari keterlibatan dengan organisasi terlarang, rasis, hingga terkait pelanggaran HAM.

Ini semua lebih kepada perang sebenarnya. Pertempuran awal. Puncak dari babak ini adalah pencoblosan. Masa dimana semua menggunakan hak suaranya di balik bilik suara.

Dari sini, masih belum jelas siapa pemenangnya.

Awalnya, banyak yang beranggapan bahwa di “Democracy War” ini akan berimbas besar. Misalnya keributan massal atau hal-hal yang tidak kita inginkan. Bayangkan saja, kedua kubu mengge-lorakan perang.

Yang satu menyebut “Perang Total”. Kubu sebelah menyebut “Perang Badar”. Saya sendiri menilai, kedua kubu tidak dewasa. Sama-sama pakai emosi. Meninggalkan akal sehat. Makanya saya memilih golput.

Namun, kita semua beruntung. Beragam pesta demokrasi sudah pernah digelar di tanah air. Mulai dari level desa, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional sudah pernah digelar.
Berkat kedewasaan masya-rakat Indonesia, berbagai potensi perpecahan berhasil dihindari. Kedua kubu yang menggelorakan “perang” dianggap angin lalu. Masyarakat Indonesia datang ke TPS dengan tertib. Tak ada “perang”.

Kita juga patut mengapresiasi semua pihak yang telah berupaya semaksimal mungkin menyukseskan kenduri demokrasi ini. Mulai dari penyenggara, pengawas, aparat, hingga kontestan. Khususnya bagi ratusan petugas yang meninggal saat mengawal jalannya pemilu.

Kita telah berhasil melewati babak pertama. Babak berikutnya sudah menanti. “Endgame” alias pertandingan terakhir.

Boleh dibilang, babak inilah yang paling seru. Klaim kecurangan hingga pelaksanaan pesta demokrasi yang amburadul menyeruak. Tudingan kriminalisasi menghiasi sebagian besar media tanah air.

Nah, Rabu 22 Mei 2019 adalah puncak dari pesta demokrasi ini. Semua persaingan, adu gagasan, “barter perang”, hingga duel Cebong vs Kampret akan berakhir. KPU akan mengesahkan siapa pemenangnya. Inilah yang saya namakan “Endgame”.

Harapan kita semua, “Endgame” berjalan aman. Mampu menghasilkan keputusan yang tepat untuk kemajuan bangsa dan negara. Tidak ada lagi perpecehan.

“Endgame” bukan akhir dari negara ini. Namun adalah akhir dari pemilu 2019. Sudah sepatutnya harus berakhir happy ending. Yang kalah harus berjiwa kesatria. Sementara yang menang jangan membusungkan dada.

Memang, tersiar kabar akan ada mobilisasi massa. Entah apapun namanya, yang penting tidak menimbulkan kegaduhan. Jika ingin menyampaikan pendapat, silakan sesuai ketentuan. Tidak boleh berakhir anarkis. Apalagi tragis.

Pilpres dan pileg adalah masalah kecil. Digelar tiap lima tahun. Namun, masa depan bangsa dan negara jauh lebih penting. Mari kita jadikan “Endgame” ini sebagai momentum untuk bersatu padu.

Mumpung Ramadan. Tidak ada salahnya sembari bersilaturahmi. (*)