batampos.co.id РJanji Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra Irawady  kepada Wakil Presiden, Jusuf Kalla, untuk menurunkan tarif logistik pengangkutan kapal di Pelabuhan Batuampar tidak ditepati.

Awalnya, Edy menyampaikan kepada Wakil Presiden, Jusuf Kalla, jika pihaknya akan melakukan penurunkan tarif logistik pengangkutan kapal di Pelabuhan Batuampar pada 30 April 2019 lalu.

Edy mengatakan, penyebabnya beragam mulai dari keterlambatan Harbour Mobil Crane (HMC) hingga persoalan internal.


“HMC rencana datang pada tanggal 14 April, tapi baru datang minggu kemarin. Pelindo I tak jadi ambil ke Kuala Tanjung (Sumatera Utara), tapi ke Surabaya,” kata Kepala BP Batam, Edy Putra Irawadi, saat ditemui di RSBP Batam, Kamis (23/5/2019).

Edy mengaku belum mengetahui secara pasti apa penyebabnya keterlambatan tersebut. “Ini soal pengadaan crane, rupanya pindah. Saya tak tahu sebabnya, apa cari yang murah atau bagaimana. Ini di luar jangkauan saya,” ucapnya.

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Batuampar Kota Batam. foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

HMC lanjutnya merupakan crane besar yang mampu mengangkut hingga 45 kontainer dalam satu jam. HMC akan menggantikan crane tua di Pelabuhan Batuampar yang hanya bisa mengangkut hingga lima kontainer per jam. “Saya sudah kehilangan waktu selama sebulan,” katanya lagi.

Persoalan lain kata Edy, miskomunikasi antara dirinya dengan kalangan internal BP Batam. Hal ini terkait perluasan container yard (CY) di Pelabuhan Batuampar yang rencananya akan dibangun di bekas gudang milik Persero.

Edy menuturkan, perluasan CY akan memudahkan BP dalam mengurangi ongkos logistik dari 470 Dolar Amerika per 20 feet menjadi hanya 250 Dolar Amerika. “Dari tiga hektar menjadi 10 hektar supaya leluasa dan lebih cepat penumpukannya,” paparnya lagi.

Edy tidak menyangka jika kendala perluasan CY justru berasal dari miskomunikasi di kalangan internal BP Batam. Ternyata gudang bekas milik Persero masih dipakai Persero untuk menyimpan kakao.

“Persero sudah terima order kakao sehingga gudangnya dikontrak. Dan ternyata setelah saya selidiki, lahan Persero sudah tidak diperpanjang oleh BP. Artinya otomatis lahan itu punya BP dan bisa dari dulu saya bongkar. Ada sesuatu yang tersembunyi yang saya tidak tahu. Saya kesal banget,” ungkapnya.

Ia mengatakan sebagai gantinya, mungkin CY atau Persero yang dipindahkan ke Pelabuhan Makobar yang juga sekarang sudah menjelma jadi pelabuhan kargo.

“Saya agak kecewa. Karena ini soal janji saya ama JK. Paling tidak mundur sebulan. Jadi melapor apa adanya,” katanya.(leo)

Loading...