batampos.co.id – Wali Kota Batam Muhammad Rudi meninjau pembangunan Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, Rabu (22/5) malam. Rudi menyampaikan, jika merujuk pada kontrak 2019, progres pembangunan masjid tersebut mencapai 78 persen. Artinya, tersisa 22 persen.

”September selesai. Selesainya maksudnya tak utuh, tapi sesuai kontrak. Tahun 2020 harus ada yang disempurnakan,” katanya.

Pembangunan masjid ini diprediksi memerlukan anggaran Rp 400 miliar. Sementara sejauh ini, masjid yang disebut dapat menampung 25 ribu jemaah ini baru menelan anggaran Rp 260 miliar.


”Rp 400 miliar itu baru sempurna, ini baru fisik kerangka tok. Tahun 2020 lanjut lagi,” imbuhnya.

Selesai pengerjaan sesuai kontrak tahun ini, pihaknya langsung merencanakan peresmian pada 20 September 2019 mendatang yang akan dihadiri Ustaz Abdul Somad.

”Setelah peresmian, lantai kan sudah siap, nah bisa langsung pakai untuk salat. Salat Jumat perdana di sini.”

Rudi menilai hadirnya masjid ini akan menstimulasi berkembangnya UMKM dan ekonomi, terutama di daerah Batuaji dan Sagulung. Karena masjid yang memiliki menara pandang dan ditanami pohon kurma ini disiapkan menjadi salah satu destinasi wisata religi andalan Batam.

Para pekerja menyusun rangka kubah Masjid Sultan Mahmud Riayadsyah. Peresmian Masjid Agung Batam II ini akan dihadiri Ustad Abdul Somad dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

”Kalau orang ke datang ke sini, transport akan hidup, kuliner juga,” ucapnya.

Soal ketersedian air, ia telah berkoordinasi dengan PT Adhya Tirta Batam. Masjid yang pembangunan mengambil marmer dari satu gunung di Sulawesi ini telah menyiapkan dua penampungan air dengan total kapasitas 270 kubik.

”Nanti tak usah pakai ngadat, saya akan panggil ATB secara khusus,” terangnya.

Selain membawa serta beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), turut hadir Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad, Sekda Batam Jefridin, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Batam KH Usman Ahmad.

”Kami minta masukan kiai terkait apa yang mesti diperbaiki, misal terkait tempat wudu dan lainnya,” katanya.

Sementara itu, KH Usman Ahmad menyampaikan bahwa dalam Islam, beribadah salat tak lepas dari kegiatan bersuci seperti berwudu. Teknisnya, di tempat wudu pihaknya memberikan masukan agar jarak antara jemaah yang berwudu minimal 80 sentimeter ini akhirnya diputuskan oleh Rudi dengan jarak 1,2 meter.

”Untuk menghindari air yang sudah dipakai jemaah lain tak kepercik ke jemaah lain. Sementara untuk tempat buang air, kami rasa sudah bagus. Sudah sesuai standar,” terangnya. (iza)

Loading...