Tim Community & Education ATB sedang melakukan sosialisasi terkait water rationing kepada pelanggan di wilayah Tiban

Penggiliran air bersih (Water Rationing) adalah pilihan yang sulit bagi semua pihak. Tidak hanya PT Adhya Tirta Batam (ATB) selaku pengelola air bersih di Pulau Batam, namun juga menjadi pil pahit bagi pelanggan. Kondisi Batam yang tidak memiliki sumber air baku alami, menjadikan water rationing sebagai salah satu langkah nyata menghemat cadangan air baku yang tersedia.

Curah hujan yang sempat berkurang secara signifikan beberapa waktu lalu, mengakibatkan air baku di lima dam yang dikelola ATB mengalami penyusutan. Pada tanggal 20 April 2019, ATB terpaksa memberlakukan program water rationing di wilayah suplai Dam Harapan. Hal ini dikarenakan dam tersebut mengalami penyusutan yang paling mengkhawatirkan. Pelanggan di area Sei Harapan, Tanjung Riau, Tanjung Pinggir, Patam Lestari, Tiban dan Sekupang harus merasakan suplai air tidak mengalir setiap hari Sabtu dan Rabu karena Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Harapan tidak beroperasi.

Pada awal pembangunannya, Dam Harapan adalah salah satu primadona dan waduk andalan di Batam. Namun, sejak 2015, Dam Harapan mulai mengalami sedimentasi. Pendangkalan area tersebut menyebabkan berkurangnya daya tampung di Dam Harapan sehingga berdampak pada kualitas, kuantitas dan kontinuitas suplai air ke pelanggan.

Water rationing sendiri, sudah dua kali menimpa Dam Harapan. Rationing pertama terjadi pada tahun 2015 akibat El Nino. Saat itu, jika tidak dilakukan rationing maka Dam Harapan hanya bisa bertahan sekitar 50 hari. ATB memilih menghemat air baku dengan menghentikan operasional IPA Sei Harapan selama dua hari tiap pekan. Pola yang sama juga diterapkan saat program water rationing Dam Harapan tahun ini.

Guna meminimalisir dampak rationing, ATB rutin mengedukasi pelanggan. Edukasi dilakukan melalui sosialisasi hemat air dan toleransi menampung air dalam berbagai kesempatan. Mulai dari talkshow radio, informasi di surat kabar, artikel media online, pertemuan warga, edukasi media sosial hingga kunjungan ke institusi pendidikan.

Tim Community & Education ATB sedang melakukan sosialisasi terkait water rationing.

ATB gencar menghimbau pelanggan untuk lebih bertoleransi dalam menampung dan menggunakan air seperlunya. Terutama bagi pelanggan yang berlokasi lebih dekat dengan IPA Sei Harapan sehingga pelanggan yang berada di lokasi yang jauh dan elevasi tinggi bisa lebih cepat proses normalisasi suplai airnya.

Awalnya, mengajak pelanggan untuk bertoleransi memang tidak mudah, terlebih ada ketakutan dari sebagian pelanggan yang beranggapan jika mereka tidak bisa mendapatkan cukup air untuk konsumsi sehari-hari. Namun ketakutan itu tidak terbukti, karena pelanggan ATB yang terdampak rationing tetap mendapatkan suplai air yang memadai meski dengan waktu suplai yang berkurang.

Curah hujan yang mulai turun dua minggu terakhir, menjadi pertanda baik bagi ketersediaan air baku di dam. Saat ini, Dam Harapan masih berada di level minus 1,31 meter dari permukaan spillway dan program water rationing akan dihentikan apabila Dam Harapan mencapai batas aman produksi di kisaran minus 1 meter dari permukaan spillway.

Opsi water rationing hanya sebatas mengulur waktu untuk ketahanan air baku. Pemerintah sebagai pemilik aset harus mengupayakan optimalisasi dam dengan mengatasi pendangkalan yang terjadi. Selain itu, peran serta seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar daerah resapan air dan alih fungsi lahan sekitar dam juga sangat diperlukan.