21-22 Mei merupakan hari suram bagi negeri ini. Sayangnya, bertepatan dengan Ramadan.

Kerusuhan pasca-pengumuman hasil rekapitulasi pemilihan umum (pemilu) berada di titik nadir. Beberapa daerah juga ikut ricuh. Paling besar di Jakarta.

Ekonomi lumpuh. Masyarakat ketakutan. Aktivitas terganggu. Semua kena imbasnya. Sama-sama sengsara. Saya mengapresiasi aparat TNI-Polri yang terus berupaya memulihkan situasi keamanan. Apresiasi juga untuk pendemo yang menggelar aksi unjuk rasa dengan santun.

Kecuali para perusuh dan provokator, semua harus kita apresiasi. Bagaimanapun juga, aparat dan massa adalah anak-anak bangsa. Berbeda dengan perusuh dan provokator yang merupakan musuh bersama.

Menyikapi kerusuhan yang terjadi, semua stake holders harus bersikap dewasa. Mulai dari kedua pasang calon, tim sukses (timses), hingga pendukung. Jika semua dewasa, kerusuhan yang lebih besar bisa dihindarkan.

Sebenarnya, saya sedikit memberikan kritik kepada kedua pasang calon. Saat kerusuhan terjadi, saya sangat berharap kedua pasangan calon, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyapa masyarakat yang berdemo di Bawaslu.

Saya membayangkan mereka datang ke Bawaslu sembari bergandengan tangan, menyerukan perdamaian. Keduanya juga sama-sama mengajak masyarakat untuk menghormati hasil KPU dan membubarkan diri.

Perkara salah satu pasangan ada yang menggugat, itu urusan lain. Yang penting, para calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) menunjukkan ke publik bahwa mereka bersahabat. Mereka tidak pecah meskipun berada di dua kubu.

Dengan demikian, setidaknya ada upaya mencegah kerusuhan yang lebih besar dan berkelanjutan. Setidaknya ada upaya menghindari jatuhnya korban jiwa. Baik dari aparat maupun pengunjuk rasa.

Sayangnya, harapan saya tidak kesampaian. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sampai akhirnya, bentrok tak terhindarkan. Imbasnya besar. Salah satunya Tanah Abang yang merugi miliaran rupiah.

Saya tidak menyalahkan para pasangan calon. Mungkin mereka punya pertimbangan masing-masing. Apakah ada arahan dari pembisik masing-masing, kita tidak tahu. Apakah ada gengsi, juga tak tahu.

Alhamdulillah, kerusuhan segera mereda. Jakarta kembali kondusif. Beberapa daerah juga berangsur pulih. Ratusan provokator sudah ditangkap. Semoga diproses seadil-adilnya.

Kita masih menunggu. Bagaimana keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Semua berproses. Biarlah yang berwenang memutuskan. Kita kembali beraktivitas seperti biasa.

Yang berlalu biarlah berlalu. Kerusuhan yang sudah terjadi cukup jadi pelajaran. Jangan sampai terulang lagi. Karena akan merugikan semua pihak. Contohnya saja pembatasan akses media sosial (medsos) yang sangat merugikan.

Indonesia adalah bangsa yang besar. Para pendiri bangsa tentunya akan sangat sedih melihat generasi penerusnya pecah. Rusuh. Semua ingin bangsa ini bersatu.

Pemilu itu adalah pesta. Sudah sewajarnya kita bergembira. Bukan berduka. Hasil pemilu adalah pilihan rakyat. Yang menang jangan membusungkan dada, yang kalah harus legawa. Majulah Indonesia. (*)