PT. Adhya Tirta Batam (ATB) resmi menghentikan program water rationing (penggiliran air) di wilayah-wilayah yang disuplai waduk Sei Harapan per 1 Juni 2019. Suplai kepada 18 ribu pelanggan akan kembali normal karena level air baku waduk sudah berada dalam batas aman produksi.

“Saat ini level air di waduk sudah berada di bawah minus 1 meter, sehingga sudah aman untuk produksi normal,” ujar Head Of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, Jumat (31/5/2019).

Program penggiliran air harus kepada 18.199 pelanggan yang disuplai melalui waduk Sei Harapan tak bisa dihindari. Langkah ini diambil karena air baku di waduk mengalami penurunan drastis hingga berada 2,5 meter di bawah spillway.


Turunnya volume air di waduk terjadi karena pergeseran siklus hujan. Biasanya Kemarau di Batam berlangsung pada Februari hingga pertengahan Maret. Sejak pertengahan Maret harusnya curah hujan sudah mulai tinggi, sehingga level air di Dam sudah mulai naik. Tahun ini berbeda. Kendati telah memasuki siklus, namun curah hujan berada di bawah intensitas normal. Volume air hujan yang harusnya ditampung di waduk mengalami penurunan drastis.

Kondisi ini diperparah dengan semakin buruknya sedimentasi di Waduk Sei Harapan. Kapasitas tampung waduk semakin merosot, sementara produksi masih berjalan seperti biasa membuat cadangan air baku terkuras.

ATB mengambil keputusan menggilir distribusi air ke pelanggan, sambil menunggu curah hujan kembali normal. Dukungan pelanggan yang bertoleransi dengan menggunakan air seperlunya, ditambah curah hujan yang mulai membaik, membuat air di Waduk Sei Harapan berangsur membaik.

Program Water Rationing waduk Sei Harapan berakhir pada 1 Juni 2019. Penggiliran berakhir setelah kondisi air baku di Waduk Sei Harapan telah mencapai level aman produksi.

“Kami berterimakasih kepada seluruh pelanggan yang sudah memahami kondisi ini dan bersedia menggunakan air dengan bijak,” jelasnya.

Menurut Maria, water rationing kali ini berjalan dengan baik. ATB gencar melakukan edukasi melalui berbagai kanal komunikasi, sehingga pelanggan bisa meminimalisir dampak penggiliran air. Minimnya angka keluhan menjadi salah satu catatan positif terkait program water rationing kali ini.

“Dari 18 ribuan pelanggan, hanya ada 594 keluhan yang masuk. Dan 98 persen diantara keluhan tersebut bisa selesai melalui edukasi yang disampaikan petugas kami,” jelasnya.

Kendati water rationing telah berakhir, namun ATB tetap melakukan pemantauan ketat terhadap level air di Waduk Sei Harapan. ATB juga meminta stakeholder terkait untuk awas terhadap kondisi Waduk Sei Harapan yang sudah mengkhawatirkan.

Menurut Maria, perlu ada langkah nyata yang diambil oleh berbagai pihak – termasuk pemerintah, agar daya tampung Waduk Sei Harapan bisa kembali optimal. Tidak hanya mengatasi pendangkalan melalui pengerukan, namun reboisasi hutan juga menjadi penting guna menjaga curah hujan di daerah tangkapan air.

ATB melalui program tanggungjawab perusahaan konsisten melakukan program penanaman pohon di area tangkapan air. ATB telah menanam 10.700 pohon selama periode 2011 hingga 2018. Tahun ini, ATB memastikan keberlanjutan program tersebut dengan menggandeng sejumlah komunitas pecinta lingkungan. Menurut Maria, program ini menunjukan komitmen ATB untuk menjaga kondisi hutan di area tangkapan air, demi menjaga cadangan air baku yang berkelanjutan.

“Tidak hanya revitalisasi waduk, tapi hutan di area tangkapan air juga harus mendapat perhatian serius. Kita harus berupaya bersama-sama agar kedepan air baku yang ada di waduk tetap terjaga,” tuturnya. (*)

 

Loading...