batampos.co.id – Masyarakat sekitar, nelayan dan pengguna pelabuhan lainnya resah dan hawatir dengan posisi kapal hisap pasir yang telah labuh jangkar bertahun-tahun lamanya di alur masuk dan keluar pelabuhan Sungai Buluh.

Melihat kondisi kapal hisap itu semakin berkarat dan bobrok, warga khawatir kapal tersebut tenggelam dan menutup alur keluar masuk kapal di pelabuhan itu.

Jika alur keluar masuk dari dan menuju pelabuhan Sungai Buluh tersebut tertutup kapal hisap yang tenggelam itu, ditakutkan akan menghambat pendistribusian BBM milik PLN yang juga menggunakan pelabuhan Sungai Buluh dan melalui jalur tersebut. Hal ini tentunya akan berujung pada kerugian masyarakat luas serta perekonomian di Kabupaten Lingga.

Sementara itu, Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Dabo Singkep Syahrul mengaku baru mengetahui hal ini setelah wartawan menyampaikan keluhan warga tersebut kepadanya. Dia juga mengaku akan mengambil langkah dengan berkoordinasi kepada anggota yang bertugas di sana.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Dabo Singkep Syahrul

“Saya akan mengecek terlebih dahulu, selanjutnya mengirim surat kepada pemilik kapal untuk dilakukan tindakan,” kata Syahrul ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (31/5) pagi.

Selanjutnya, masih Syahrul, terserah pemilik apakah akan mengambil langkah untuk memindahkan kapal ketempat yang lebih aman atau melakukan secrab dan sebagainya. Hal itu diungkapkan Syahrul sebagai otoritas dari pemilik kapal namun untuk kondisi situasi di jalur keluar masuk pelabuhan Sungai Buluh, Syahrul mengaku masih belum mengetahuinya.

Selain di pelabuhan Sungai Buluh, banyak juga kapal hisap dan kapal lainnya telah menjadi bangkai di perairan Kute. Awalnya seluruh kapal tersebut juga labuh jangkar di perairan itu namun lambat laun kapal semakin tua, bobrok dan akhirnya tenggelam.

Terkait hal ini, Syahrul juga mengaku telah mendapat kabar dari pemilik kapal yang menyatakan akan mengangkat kapal tersebut namun hingga kini tidak ada kegiatan yang terlihat di lokasi seperti yang dijanjikan pemilik kapal.

“Jika diperairan Kute kapal yang labuh jangkar dan sudah tenggelam itu mengganggu alur pelayaran kami akan mengambil tindakan,” kata Syahrul. (wsa)

Loading...