batampos.co.id – Bank Indonesia (BI) mencatat terjadinya perlambatan kredit perbankan pada April lalu. Pada bulan keempat 2019 tersebut, penyaluran kredit mencapai Rp 5.339,2 triliun atau tumbuh 11 persen secara year-on-year (yoy).

Atau lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 11,5 persen (yoy).

Direktur Eksekutif-Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menyatakan, perlambatan tersebut berdampak pada pertumbuhan uang beredar. Berdasar data BI, komponen uang beredar dalam arti luas atau M2 mencapai Rp 5.744 triliun alias tumbuh 6,2 persen (yoy).

’’Pertumbuhan ini sedikit lebih rendah kalau dibandingkan dengan Maret yang mencapai 6,5 persen,’’ jelasnya akhir pekan lalu.

Onny mengungkapkan, faktor penyebab turunnya peredaran M2 adalah uang kuasi. Yakni, tabungan dan simpanan berjangka. Komponen itu hanya tumbuh sekitar 6,2 persen pada April. Padahal, di bulan sebelumnya, pertumbuhannya mencapai 7 persen.

’’Pasar uang kuasi terhadap M2 itu tercatat 74,4 persen dengan nilai Rp 4.272,0 triliun,’’ ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Onny menuturkan bahwa kom­po­nen uang beredar dalam ar­­ti sempit (M1) serta surat ber­harga selain saham me­ning­ka­t. Masing-masing tumbuh 5,8 persen (yoy) dan 31,1 perse­n (yoy). Angka itu le­bih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. ’

’Peningkatan pertumbuhan komponen uang bereda­r sempit (M1) dan surat berharga selain saham ini menahan perlambatan pertumbuhan M2,’’ jelas Onny.

Jika M1 menca­tatkan perlambatan, turunnya peredaran M2 akan lebih besar daripada yang tercatat April.Berdasar faktor yang memengaruhinya, perlambatan pertumbuhan M2 dipicu kontraksi pertumbuhan aktiva luar negeri bersih dan perlambatan pertumbuhan kredit.

Pada April lalu, aktiva luar negeri bersih tumbuh negatif. Angkanya tercatat minus 5,8 persen (yoy). Pada bulan sebelumnya, kinerja aktiva luar negeri bersih juga negatif. Namun, angkanya lebih kecil. Yaitu, minus 3,7 persen (yoy).

ilustrasi

Menurut Onny, kondisi itu tercipta karena meningkatnya kewajiban sistem moneter nonresiden. Lagi pula, posisi cadangan devisa relatif stabil.

Onny menjelaskan, penyaluran kredit yang mengalami perlambatan terjadi pada golongan debitor korporasi dan perorangan. Dua golongan itu memiliki pangsa 49,9 persen dan 46,1 persen dari total penyaluran kredit. Namun, perlambatan pertumbuhan M2 masih tertahan oleh ekspansi operasi keuangan pemerintah pada April lalu.

Terbukti, tagihan bersih sistem moneter kepada pemerintah pusat meningkat. Dari minus 9,1 persen (yoy) menjadi tumbuh sekitar 5,1 persen (yoy).

’’Ini sejalan dengan perlambatan rekening giro pemerintah pusat pada sistem moneter,’’ ujarnya.

Sampai bulan lalu, perlambatan uang beredar masih terjadi. Salah satu pemicunya adalah tingginya harga tiket pesawat yang mengakibatkan jumlah penumpang turun.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat penurunan jumlah pemudik dari jalur udara pada H-6 dan H-7 Lebaran kali ini. Dalam waktu dua hari itu, jumlah penumpang pesawat tercatat 411.680 orang atau turun 42,77 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Secara terperinci, Kemenhub mencatat jumlah penumpang H-7 Idul Fitri pada Rabu (29/5) mencapai 231.578 penumpang.

Angka itu turun 20,01 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (289.522 penumpang). Pada H-6 Lebaran alias Kamis (30/5), tercatat ada 180.102 penumpang atau turun 39,62 persen kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya. (ken/vir/c14/hep)