MIKIKO Kuzuno masih ingat saat melamar kerja tiga tahun lalu. Dia tak mengirimkannya lewat pos. Dia datang sendiri ke sebuah pabrik di dekat Warabi, Prefektur Saitama, Jepang. Dengan datang langsung, Kuzuno ingin menunjukkan kepada perusahaan bahwa dirinya masih sehat dan layak diterima kerja. Maklum, usianya tak lagi muda. Saat melamar kerja itu, Kuzuno sudah berumur 75 tahun.

’’Saya ingin menunjukkan kepada mereka betapa sehatnya saya. Beberapa orang (seusia saya) sangat lemah,’’ ujarnya kepada Bloomberg.

Strategi yang dipakai Kuzuno pun berhasil. Dia diterima. Kini dia sudah tiga tahun bekerja membantu mencuci dan mengepak handuk kecil bagi para pengun-jung di restoran. Pekerjaannya cukup menguras tenaga. Dia harus berdiri selama tiga jam per sif. Namun, dia tak pernah mengeluh. Perempuan 78 tahun itu ingin terus bekerja.


Sebab, dia benci hanya berdiam diri sendirian di rumah. Suaminya sudah tiada.
Alasan lain adalah tak mau merepotkan dua putrinya. Kuzuno ingin memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa meminta anak-anaknya.

Kuzuno bekerja sejak masih muda. Namun, semua perusahaan tempatnya bekerja tak memberikan uang pensiun. Dia kini hanya bergantung pada uang pensiun dengan jumlah yang tak mencukupi dari negara dan gajinya di perusahaan handuk. ’’Saya ingin bekerja selama-lamanya. Putri-putri saya punya masalah sendiri,’’ kata Kuzuno.

Hal serupa dilakukan Takayoshi Kimura. Dia mulai bekerja di outlet peralatan dapur milik Tempos Holdings ketika berusia 58 tahun. Mes-ki berusia lebih dari separo abad, dia tak kalah dari pekerja yang masih muda. Pria yang kini berusia 73 tahun tersebut adalah salah seorang staf dengan penjualan terbanyak di outlet Tokyo.

Sejatinya, dia dulu punya bisnis di desa. Namun, pros-peknya tak bagus sehingga dia terpaksa menutupnya dan mencari kerja di kota. Kimura senang bertemu dengan para pengusaha muda saat melayani para pembeli. Beberapa kawan seusianya di desa mendapat pekerjaan sebagai penjaga keamanan.

’’Hampir tak ada pekerjaan sama sekali di desa (untuk lansia, red),’’ ucapnya. Istrinya memintanya pulang saja. Namun, dia ingin terus bekerja setidaknya hingga berusia 75 tahun.

Kian banyak pencari kerja lansia seperti Kuzuno dan Kimura di Jepang. Memang banyak warga Jepang yang pecandu kerja. Jumlah lansia di Negeri Sakura juga makin banyak.

Proporsi penduduk usia 65 tahun ke atas di Jepang merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain. National Institute of Population and Social Security Research bahkan memperkirakan, pada 2060, sekitar 40 persen penduduk Jepang berusia 65 tahun ke atas.

Tingginya angka lansia membuat pemerintah kewalahan membayar uang pensiun. Karena itu, orang-orang yang ingin memundurkan jadwal pensiun justru didukung. Mereka yang mau menunda pensiun hingga di atas 70 tahun bahkan diberi tambahan gaji.

Sayangnya, tak semua perusahaan membutuhkan lansia. Perusahaan dengan produktivitas tinggi seperti konstruksi dan jasa pengiriman lebih membutuhkan para pemuda. Merekalah yang selama ini kekurangan pegawai akibat rendahnya regenerasi penduduk di Jepang. Mayoritas lansia juga tinggal di pedesaan yang minim peluang kerja.

Salah satu yang membuka pintu bagi lansia adalah pendiri sekaligus Presiden Tempos Holdings Atsushi Morishita. Dia terinspirasi ayahnya yang masih bekerja hingga usia 90 tahun. Karena itu, pemilik 58 outlet peralatan dapur tersebut ingin memberikan kesempatan yang sama bagi para lansia di negaranya.

Lagi pula, perusahaannya tak membutuhkan pekerja dengan produktivitas tinggi. Selain itu, diharapkan para lansia tak membuang waktu sia-sia.

’’Jadi, saya pikir saya akan menyediakan tempat bagi mereka untuk bekerja,’’ tuturnya. (sha/c14/sof)

Loading...