JIKA kebetulan Anda mudik di jalanan non-tol Pulau Jawa, lalu menemui seorang pengendara bule dengan motor yang sarat barang bawaan, bisa jadi itu adalah Matteo Nanni. Pria asal Italia itu saat ini sedang menyelesaikan fase akhir pengelanaannya dari Jakarta menuju Bali.
Dia memang tidak berniat untuk ikut arus mudik. Hanya kebetulan perjalanannya berbarengan dengan siklus mudik tahunan. Dia pun baru mengetahuinya setelah sejumlah kawan di Jakarta menjelaskan kepadanya tentang apa itu mudik.
Namun, dia tidak ingin berhenti lebih lama. Terus melanjutkan laju motornya menuju Bali yang menjadi titik perhentian perjalanan panjangnya selama enam bulan terakhir. Dari kampung halamannya di Rimini, Italia, ke Indonesia.
’’Ya, saya tahu, mungkin lalu lintas akan padat di jalan. But, I must go on,’’ ujar Matteo saat ditemui di resto Black Sheep, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (28/5).
Tentu saja, meski ngomong dengan bahasa Inggris, tangannya selalu bergerak menunjukkan gestur jemari yang me­nguncup mirip bintang-bin­tang Serie A waktu protes ke wasit.

Namanya juga orang Italia. Hehehe…
Matteo mulai touring dengan motor sejak 2011. Dan, sejak saat itu dia sudah berkeliling Eropa di atas dua roda. Dia juga sudah menempuh perjalanan dari Italia ke Mongolia pada musim panas. Menerabas kawasan Siberia di Rusia, kemudian masuk ke hamparan padang pasir sebelum sampai di ibu kota negeri asal Genghis Khan tersebut, Ulan Bator. Setelah itu, dia kembali menumpang pesawat. Sedangkan motornya dikirimkan via paket kapal.
Lalu, apa yang membuatnya ingin mengunjungi Indonesia kali ini? Dia mengaku ingin lebih mengenal Asia. Ingin berkendara sampai Asia Tenggara. Jadilah, setelah semua persiapan selama beberapa bulan dirasa cukup, pada 13 November 2018, di awal musim dingin, dia pun kembali ke jalan. Memulai petualangan ke negeri impiannya, Indonesia.

MATTEO Nanni berpose di atas motor Honda Translap 650cc di Kemang, Jakarta, Selasa (28/5). MATTEO Nanni berpose di atas motor Honda Translap 650cc di Kemang, Jakarta, Selasa (28/5).

Dalam fase persiapan, tentu saja yang paling krusial adalah menyiapkan motor. Jangan bayangkan kalau motor yang dibawa pria yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang lingkungan itu adalah motor adventure canggih macam Honda CRF1000L Africa Twin atau BMW R 1200 GS.
Motor yang dikendarainya untuk melibas jalan adalah motor yang sama sejak awal dia menjadi biker: Honda Transalp XL 650 V. Motor dua silinder dengan V-twin engine lansiran 2003 itu dibelinya pada 2009.
Demi memudahkan perjalanan superjauh yang akan dilakukan, dia pun memodifikasinya. Di antaranya, mengganti ban dengan model dual purpose, memasang dua pannier, serta memasang dua gas tank cadangan yang masing-masing mampu memuat 2,5 liter bensin.
Motor itu dia beri nama Grigina yang artinya adalah Si Kelabu Kecil. ’’Saya beri nama cewek karena semua motor di Italia itu adalah cewek,’’ tuturnya, lalu terbahak.
Dia sengaja memilih motor yang tidak banyak memiliki perangkat elektronik. Sebab, jika terjadi masalah selama perjalanan, tidak akan terlalu sulit untuk membereskannya.
’’Motor dengan karburator sangat simpel. Kalau saya sendiri tidak bisa, pasti banyak bengkel yang bisa menga-tasinya kalau ada masalah,’’ urai pria yang ketika ditemui mengenakan kaus hijau dan sepatu riding itu.
Sejak memulai perjalanan enam bulan silam, Matteo sudah menempuh jarak sekitar 30.000 kilometer. Dia pun telah melintasi Italia, Yunani, Turki, Iran, Pakistan, India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Laos, Singapura, kemudian Malaysia, sebelum mencapai Indonesia. Perjalanannya itu dia abadikan dalam foto-foto yang dia pajang di akun Facebook-nya, Matteww on The Road, dan akun Instagram @matthew_on_the_road.
Selain kesiapan motor, dokumen adalah salah satu yang menyita perhatian ekstra. Sebelum berangkat, dia harus mengurus visa India, Pakistan, dan Iran. Selain tiga negara tersebut, di negara lain soal visa relatif tidak menjadi masalah. Sebab, dia tidak perlu mengurus visa di Eropa karena sesama negara anggota Uni Eropa. Sedangkan di negara-negara lainnya, visa bisa diurus ketika kedatangan.
Selama menempuh jarak puluhan ribu kilometer tersebut, dia menghadapi berbagai masalah. Motornya sempat beberapa kali menga-lami kebocoran ban. Lalu, karburator juga sempat bermasalah di India dan Jakarta.
Selain itu, dia sempat mengalami masalah pencernaan di Pakistan. ’’Di India, bagian samping motor saya ditabrak motor. Tapi, tidak parah, dan saya bisa melanjutkan perjalanan,” ucap pria yang mengaku jago memasak itu.
Di unggahan akun Instagram-nya, juga terungkap bahwa dia sempat crash. Motornya terjatuh ketika menerabas jalanan berbatu di belantara Aceh. Kendati demikian, dia menganggap semua masalah yang dialaminya adalah warna dalam sebuah perjalanan.
Dia pun berfilosofi, tidak ada yang selalu mulus dalam hidup. Seperti halnya ketika riding, kadang belok, berhenti, naik, turun. Terkadang juga terjatuh.
Masalah itu pulalah yang membuat keluarganya sempat khawatir di awal-awal dia melakukan perjalanan jauh. Namun, pria yang mengaku masih single tersebut tetap nekat dan menempuh perjalanan jauh bersama si Grigina. ’’Just ride and hit the road,’’ tegasnya.
Dia mengatakan, tidak ada masalah yang sampai mengancam keselamatan. Misalnya, dibegal atau dirampok. Sebelum berangkat, dia sempat diberi tahu bahwa Iran, India, dan Pakistan adalah negara-negara berbahaya.
Namun, bukannya bertumbukan dengan mara bahaya, selama di jalan, dia selalu bertemu dengan orang-orang baik yang selalu siap menolong di mana saja. Terutama para biker yang merasa menjadi saudara satu aspal dengannya. Matteo bilang, dunia tidak seburuk itu. ’’Kamu tidak perlu takut dengan segala hal yang belum kamu ketahui,’’ paparnya.
Bahkan, orang-orang baik itulah yang akhirnya membuat Matteo tinggal lebih lama di suatu tempat. Misalnya, dia tinggal 10 hari di Goa, India; 10 hari di Chiangmai, Thailand; 7 hari di Singapura; plus 8 hari di Jakarta.
Selain orang-orang baik yang ditemuinya di jalan, dia didukung beberapa orang baik di kampung halamannya. Di antaranya adalah pemberian sponsor berupa riding gear dan perlengkapan motor. Misalnya, helm Caberg dan jaket riding Alpinestars yang dikenakannya. Juga, East Coast Rider, bengkel motor lokal di Rimini yang menyuplainya dengan fuel filter.
Di luar itu, dia tidak mendapatkan sponsor dalam bentuk fresh money. Untuk membiayai perjalanan, dia pun harus menabung. Sejauh ini, dia mengaku sudah menghabiskan sekitar EUR 6.000 (sekitar Rp 96 juta).
Salah satu orang baik yang akhirnya menjadi sahabatnya adalah Michele Cuozzo. Kompatriot Matteo itu adalah chef sekaligus owner resto Black Sheep yang menjadi tuan rumahnya selama dia di ibu kota. Mereka awalnya berkenalan lewat medsos tiga bulan lalu, ketika Matteo masih di Thailand. ’’Saya kagum dengan semangatnya untuk menyebarkan kebaikan. Sejak saat itu, kami pun jadi sangat akrab,’’ kata Michele yang duduk di sebelah Matteo.
Michele yang sudah berumur setengah abad itu mengatakan, meski baru bertatap muka langsung, yang dilakukan Matteo tersebut mampu menginspirasinya. Dia ingin melakukan perjalanan serupa dengan yang dilakukan Matteo. (*/c10/ttg)


Loading...