batampos.co.id – Teksturnya padat, berwarna hitam dan sedikit berminyak. Dihidangkan dalam potongan-potongan jajar genjang di atas piring kecil.
Dodol Kacang namanya, merupakan penganan khas masyarakat Melayu yang selalu ada di setiap momen-momen penting perayaan adat dan keagamaan, termasuk lebaran Idulfitri.
Kesan tradisional tidak hanya terlihat dari bentuknya saja, namun juga terasa dari cita rasa kacang hijau bakar yang ada di dalamnya. Rasa yang tidak muncul pada jenis makanan yang muncul pada kondisi terkini.

“Kalau tidak ada Dodol, rasanya seperti ada yang kurang, walaupun susah orang-orang tua kita tetap bikin Dodol,” kata Saddam, warga Kelurahan Rempang Cate, kota Batam, Rabu (5/6/2019).
Menurut pria 28 tahun itu, membuat dodol tidak semudah kue lainnya. Karena memerlukan proses panjang hingga bisa dinikmati.
Kacang hijau yang menjadi bahan utama kue ini, harus lebih dulu disangrai. Kemudian kacang yang telah matang ditumbuk hingga halus layaknya tepung.
Selanjutnya kacang hijau yang telah halus ini di campur dengan santan kelapa. Proses selanjutnya, adonan tepung kacang dan santan kelapa ini kemudian dipanaskan lagi, lalu ditambahkan gula.
“Kalau ngaduk Dodol tak boleh berhenti, harus diaduk terus. Tidak gampang bikinnya,” kata Saddam lagi.
Proses yang panjang ini, lanjut Saddam, menghadirkan ruang untuk terjalinnya keakraban di masyarakat. Proses pembuatan yang juga dilakukan banyak orang ini, membuatnya terasa lebih bernilai.
Tidak hanya sebagai makanan khas, namun juga menjadi wadah komunikasi untuk masyarakat di satu lingkungan tertentu.
Meskipun pada momen lebaran ini proses pembuatannya teradang tidak melibatkan banyak orang seperti pada momen pernikahan dan acara-acara lain, kue Dodol ini tetap menjadi makanan yang memiliki nilai lebih dibanding makanan lainnya.(bbi)
