Berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya, pemudik melalui jalur udara turun drastis. Jalur laut justru jadi primadona. Membeludak.

Lebaran pertama lalu, 5 Juni 2019, saya sekeluarga mudik ke kampung halaman. Kami tidak punya pilihan. Harus lewat jalur udara. Yang tiketnya katanya mahal itu. Syukurlah terbeli.

Pukul 09.00 tiba di Bandara Hang Nadim, suasana lengang. Tak tampak aktivitas di konter check in maskapai. Hanya beberapa orang saja. Namun saya tidak sempat bertanya, ke mana tujuan mereka.

Saya yang mengambil rute Batam-Pontianak-Balikpapan, diarahkan ke gate A9. Ada banyak calon penumpang. Ratusan. Awalnya, saya mengira bahwa mereka satu pesawat dengan saya. Ternyata salah. Mereka adalah penumpang jurusan Jakarta yang gagal terbang karena pesawatnya kembali.

Setelah mereka diberangkatkan di jam berbeda, gate A9 sontak sepi. Hanya beberapa saja. Tidak sampai sepuluh. Karena penasaran, saya coba cek gate lainnya. Gate A1 hingga A8 yang berada di lantai 2 juga sepi. Hanya tampak beberapa calon penumpang di ruang tunggu.

“Enggak kayak tahun lalu. Ramai. Sekarang sepi,” kata salah seorang calon penumpang yang saya temui di sebuah kafe di lantai 2.

“Mungkin karena tiket mahal,” sambungnya.

Ya, melejitnya harga tiket seolah menjadi bom waktu. Kabarnya, beberapa maskapai membatalkan penerbangan karena penumpang minim. Entah bagaimana hitung-hitungannya, yang pasti harga tiket pesawat masih lumayan. Meskipun kabarnya diturunkan.

Berbanding terbalik dengan jalur laut yang ramai. Yang dinikmati semua orang. Yang membeludak sejak jauh-jauh hari.

Memang, itu merupakan kebijakan setiap maskapai. Karena mereka yang punya armada. Tapi, rencana pemerintah mengundang maskapai asing melayani penerbangan di Indonesia adalah kabar baik.

Artinya, penumpang punya banyak pilihan. Beragam alternatif tumpangan udara. Tidak yang itu-itu saja. Si penguasa pasar transportasi udara itu saja.

Dan, kalaupun maskapai asing masuk ke Indonesia, harus ada kentuan jelas. Maskapai hanya diwajibkan mengambil margin keuntungan berapa persen dari biaya operasional. Biar tidak sembarangan mengatur harga.

Kalau sudah begitu, saya yakin maskapai lain yang sudah menaikkan tarif tiket tanpa ampun, akan berpikir keras. Sehingga tarif tiket kembali ke angka yang wajar. Tidak semena-mena. Kemarin standar, hari ini naik, besok turun, lusa berlipat-lipat.

Dengan tarif tiket pesawat yang menurut saya tidak wajar, banyak dunia usaha yang terpukul. Misalnya saja pariwisata. Orang jadi berpikir dua kali ketika harus berlibur. Apalagi ditambah dengan kebijakan bagasi berbayar. Semangat memajukan perekonomian jadi berantakan.

Batam, misalnya. Dulu, terkenal sekali dengan sebutan sebagai daerah transit. Mau pulang-pergi Singapura atau Malaysia, mending lewat Batam dulu. Tiket lebih murah. Turun dari Bandara Hang Nadim, langsung nyeberang ke tempat tujuan.

Sekarang berbeda. Tiket pesawat justru lebih murah ke Singapura. Celakanya, malah banyak warga Batam dan Kepri yang mudik lewat Singapura. Ini yang agak aneh. Padahal di Negeri Singa sedang ramai isu Cacar Monyet.

Ternyata, bahaya Cacar Monyet tak membuat keder pemudik.

Tak ada apa-apanya. Lebih seram harga tiket yang mahal ketimbang Cacar Monyet. Hehehehehe.

Persoalan ini harus segera dicari solusinya. Okelah, dua penguasa bisnis penerbangan saat ini secara tidak langsung bagian dari pemerintah. Yang satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang satu milik petinggi partai politik (parpol) pengusung petahana.

Tapi, pemerintah harus tegas. Utamakan kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Semoga, rencana mendatangkan maskapai asing bukan sekadar wacana atau pengalihan isu.

Jangan sampai tiket pesawat menjadi bom waktu bagi semua sektor. Baik industri, pariwisata, hingga sektor-sektor lainnya. (*)

Loading...