Jumat, 17 April 2026

Persaingan Kerja Kian Ketat

Berita Terkait

batampos.co.id – Batam masih menarik bagi para pencari kerja (pencaker) dari daerah lain. Seperti tahun-tahun sebelumnya, gelombang arus balik Lebaran tahun ini diwarnai wajah-wajah baru. Umumnya mereka merupakan lulusan SMA sederajat yang ingin mencari kerja di Batam.

Indra, salah satunya. Pria asal Sumatera Barat ini mengaku berangkat ke Batam dengan Dumai Line pada Minggu (9/6) lalu. Ia berangkat bersama kakaknya yang sebelumnya sudah tinggal di Batam.

“Baru tamat sekolah (SMA), mau langsung kerja. Daripada nganggur di kampung, jadi ikut kakak saja ke Batam,” ujar Indra yang ditemui usai mengirim surat lamaran kerja di Kantor Pos Batam Center, Senin (10/6).

Inda mengaku sudah mengetahui, mencari kerja di Batam tidak semudah dulu. Namun ia tetap tertarik mencoba peruntungan di kota industri ini karena upah minimum kota (UMK) yang tinggi. Bahkan ia mengaku rela bekerja apa saja asalkan gajinya minimal senilai UMK.

“Tidak masalah mau kerja jadi OB (office boy, red) atau sejenisnya, karena gajinya sudah lumayan. Tapi sebelum dapat kerja, bisa bantu kakak jualan di pasar,” ucapnya.
Fenomena pendatang baru yang mencari kerja juga terlihat di Multi Purpose Hall (MPH) Batamindo, Batam, Senin (10/6). Ratusan pencari kerja memadati MPH sejak pagi.

Beberapa di antaranya merupakan pendatang baru dari sejumlah daerah di luar Batam.
Di antara ratusan pencari kerja itu ada Melisa. Lulusan salah satu SMA negeri di Medan, Sumatera Utara ini mengaku baru datang di Batam. Ia mengaku tertarik merantau ke Batam karena ajakan temannya yang sudah terlebih dahulu kerja di Batam.

“Datang ke sini memang rencana bekerja,” ungkapnya, Senin (10/6).

Namun, sepanjang hari kemarin tidak banyak informasi lowongan kerja yang dipasang di MPH Batamindo. Kalaupun ada lowongan, umumnya diprioritaskan bagi yang sudah berpengalaman.

Tapi Melisa tak patah arang. Ia mengaku akan tetap bertahan di Batam sampai mendapatkan kerja.

“Informasinya habis Lebaran ini banyak perusahaan di Batamindo membuka lowongan,” katanya.

Pencaker lainnya, Margaret, juga mengaku sudah beberapa hari di Batam. Seperti halnya Melisa, ia langsung ikut nimbrung dengan pencaker lainnya di MPH Batamindo. Namun sayang, sampai kemarin belum ada satupun lowongan kerja untuknya.

Sebagai pendatang baru di Batam, Margaret mengaku harus rajin mencari informasi lowongan pekerjaan, termasuk di tempat-tempat publik seperti MPH Batamindo. Sebab ia harus beradu cepat dengan ratusan bahkan ribuan pencaker lainnya.

“Harus cari tahu terus informasi, meskipun zaman sekarang sudah ada sosial media dan online. Tetap berusaha cari tahu di lapangan,” ucap Margaret.

Pengamat Kebijakan Ekonomi Batam Muhammad Zainuddin mengatakan, fenomena pendatang baru di Batam dalam arus balik Lebaran merupakan hal yang wajar. Kondisi ini membuktikan Batam masih menarik bagi perantau dan para pencari kerja dari daerah lain di Indonesia.

“Ini sudah menjadi fenomena untuk kota-kota besar,” sebut Zainudin, Senin (10/6).
Namun ia menduga, jumlah pendatang baru di Batam tahun ini tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, sehingga ketersediaan lapangan kerja di Batam menjadi terbatas.

“Memang perlu ada studi khusus untuk mengamati urbanisasi setelah Lebaran dari tahun ke tahun, yang nantinya bisa dilihat dari data BPS (Badan Pusat Statistik, red),” terangnya.

Apalagi, kata Zainuddin, belakangan ini banyak perusahaan di Batam yang tutup. Informasi ini sudah cepat menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, sehingga minat pencari kerja ke Batam sedikit menurun.

Sementara bagi mereka yang sengaja datang ke Batam untuk mencari kerja, umumnya datang karena adanya ajakan atau dibawa orang yang memang sudah tinggal di Batam. Artinya, sudah ada pertimbangan kebutuhan yang harus dipenuhi agar tidak menjadi beban.

“Bisa jadi yang membawa karena sudah ada usaha di Batam, jadi perlu orang untuk membantunya tanpa harus menggaji tinggi, sehingga orang dari daerah luar perkotaan bisa menjadi sasaran yang tepat,” tutur Zainuddin.

Di tengah fenomena tersebut, pemerintah diharapkan terus berbenah untuk memulihkan perekonomian Batam dari berbagai sektor. Di antaranya dengan menciptakan usaha-usaha baru dengan terus mempermudah proses dan perizinan investasi.

“Inisiatornya memang pengusaha dan kerja sama masyarakat yang mengerti akan kondisi ekonomi sekarang. Sehingga pendatang baru itu benar-benar sudah ada tujuannya untuk datang (kerja), yang bukan untuk sekadar merantau saja,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Batam, Rudy Sakyakirti. Ia tak menampik Batam masih jadi harapan tersendiri bagi pendatang baru. Meski sebenarnya, kondisi Batam tidaklah seperti beberapa tahun silam. Pemerintah pun tak bisa melarang warga dari daerah lain datang ke Batam untuk mencari kerja.

“Bagi pendatang, Batam ini masih menarik,” ujar Rudy, Senin (10 /6).

Menurut dia, para pendatang nantinya dipersilakan bersaing dengan pencari kerja lainnya yang ada di Batam. Apalagi, ada beberapa perusahaan di kawasan Mukakuning yang tengah membuka lowongan pekerjaan. Perusahaan tersebut membutuhkan pekerjaan non skill atau tamatan SMA.

“Nanti perusahaanlah yang menentukan kualifikasi pekerja yang dibutuhkan seperti apa,” jelas Rudy.

Untuk pekerja yang memiliki skil, menurut Rudy, persaingannya cukup ketat. Apalagi yang tamatan sarjana, lowongan pekejaan itu tidaklah begitu banyak.

“Perusahaan-perusahaan banyak membutuhkan yang non-skill,” tegasnya.

Disinggung soal pengangguran di Batam, Rudy mengklaim untuk warga Batam sendiri tidaklah begitu banyak. Sebab, menurutnya, beberapa persen yang masuk data pengangguran di Batam merupakan warga luar Batam.

“Yang dari luar Batam juga dihitung, makanya banyak,” terang Rudy.

Untuk mengurangi angka pengangguran, pemerintah sendiri saat ini masih menjalankan program pelatihan kerja. Sehingga nantinya para pencari kerja benar-benar siap dan bisa memenuhi kebutuhan angkatan kerja di Batam.

“Pelatihan masih ada, namun khusus KTP Batam,” tutur Rudi.

Menambah Angka Pengangguran

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid mengatakan, fenomena pendatang baru di Batam setiap Lebaran usai merupakan hal yang lumrah. Namun di sisi lain, fenomena ini berpotensi menambah tingkat pengangguran.

“Itu memang fenomena umum yang sering terjadi di Batam. Di sebagian daerah, lapangan pekerjaan memang sulit didapat. Sehingga banyak yang merantau ke Batam yang memang masih jadi tempat favorit bagi pencari kerja,” kata Rafki Rasyid, Senin (10/6).

Tapi, sayangnya perekonomian Batam belum jaya seperti enam tahun yang lalu. Sekarang ini, perekonomian Batam masih merangkak sedikit demi sedikit untuk pulih kembali.

“Itu membuat pertumbuhan lapangan pekerjaan juga melambat. Sehingga banyak pencari tenaga kerja yang tidak terserap sama sekali,” jelasnya.

Persoalan ini memang belum bisa dicari solusinya secara sempurna. Tapi bukan berarti tidak ada solusi minimal untuk meminimalisir fenomena tersebut.

Rafki mengatakan Apindo Batam sudah mulai melaksanakan berbagai pelatihan bagi pencari kerja sambil bekerja di perusahaan-perusahaan yang merupakan anggota Apindo.

“Istilah lainnya adalah pemagangan. Dengan pemagangan, maka pencari kerja yang baru lulus sekolah diberikan pengalaman bekerja sehingga akan lebih mudah diserap oleh dunia kerja,” ucapnya.

Bagi peserta pemagangan yang bagus akan langsung direkrut sebagai karyawan di perusahaan anggota Apindo tersebut. Program ini sudah mulai dijalankan tahun ini.

“Dananya diambil dari dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan anggota Apindo yang dipakai untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui program pemagangan ini,” katanya.

Ia optimistis, dengan metode tersebut akan tersedia tenaga kerja terampil yang siap pakai di pasar kerja.

“Perusahaan anggota Apindo yang butuh karyawan juga tidak perlu susah lagi merekrut calon karyawan baru karena sudah bisa menilai kinerja calon karyawannya melalui program ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, Rafki berharap agar pemerintah terus mendorong investasi di Batam agar lapangan pekerjaan semakin banyak tersedia bagi pencari kerja ke Batam.

Sedangkan, Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hioeng mengatakan arus migrasi memang tidak bisa dicegah karena penduduk Indonesia bisa kemana saja asal merupakan bagian dari Indonesia.

Tapi nyatanya yang Batam butuhkan adalah tenaga kerja terampil dan memiliki kompotensi. Sedangkan para pendatang rata-rata merupakan tenaga kerja tidak terampil dan tak punya kompetensi yang dibutuhkan oleh industri di Batam.

“Perusahaan asing itu butuh tenaga kerja terampil, bukan tenaga kerja yang low skill. Karena hal tersebut, banyak perusahaan mengeluh,” ungkapnya.

Hal ini bisa diatasi dengan vokasi pendidikan. Pemerintah harus aktif mendidik pencari kerja agar mudah diterima perusahaan. Dengan demikian, maka tingkat pengangguran akan berkurang.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri sendiri, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kepri pada Agustus 2018 lalu sudah mencapai 7,12 persen.
TPT tertinggi berada pada pencari kerja lulusan SMK sebanyak 12,98 persen yang kemudian disusul oleh pencari kerja lulusan SMA sebesar 10,91 persen. Dengan kata lain, banyak penawaran tenaga kerja yang tidak terserap oleh lulusan SMK dan SMA. (cr1/nji/leo/she)

Update