batampos.co.id  – Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok meski dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Kota Batam.

Selain dengan meningkatkan daya saing yang lebih kompetitif, juga perlu giat menggelar promosi di negeri tirai bambu tersebut.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Fadjar Madjardi, mengatakan kegiatan promosi diperlukan untuk memperkenalkan keunggulan Batam serta mengetahui potensi investasi yang bisa diperoleh dari Tiongkok.

“Melihat peluang tersebut harus dilakukan dengan promosi langsung. Sehingga mengetahui potensi industri yang mau pindah (dari Tiongkok-red) itu apa saja. Terus ketika sudah disini, potensi selanjutnya bagaimana. Itu semua harus dari kita,” ujarnya, Rabu (12/6/2019).

Kawasan industri Batamindo, Kota Batam. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Dengan kata lain, kata dia, Badan Pengusahaan (BP) Batam maupun Pemerintah Kota (Pemko) Batam harus berani menjemput bola langsung ke Tiongkok.

“Kita bisa jemput bola untuk mengetahui industri mana yang terdegradasi karena imbas perang dagang di Tiongkok,” ungkapnya. Baca Juga: Batam Diuntungkan Perang Dagang

Gerak cepat harus dilakukan, mengingat Indonesia sudah tertinggal jauh dari Vietnam yang mampu memanfaatkan momentum perang dagang dengan baik.

Fadjar mengatakan, Vietnam sangat serius dalam mengembangkan perekonomiannya. Negeri berpaham komunis tersebut bercita-cita jadi Tiongkok kedua.

“Vietnam sekarang tiba-tiba melesat. Karena mereka serius dan memiliki keyakinan yang tersentralisasi,” paparnya.

Keuntungan berinvestasi di Vietnam bisa dilihat dari proses pengalokasian lahan yang tidak rumit. Karena lahan disana semua milik negara, maka investor tinggal mencari ke pemerintahan disana.

“Vietnam melakukan langkah yang sama seperti yang dilakukan Tiongkok pada awal 2000-an. Contohnya mereka gelar karpet merah untuk investor yang datang,” katanya.

Keuntungan lainnya yakni komponen upah yang lebih bersahabat dibandingkan dengan Kota Batam. Karena berpaham komunis, negara tersebut memegang mutlak standar penetapan upah sesuai kebutuhan.

Menurut Fadjar, komponen upah sangat berpengaruh terhadap penilaian dari para investor. Pergerakan upah di Vietnam memang stabil karena ditentukan oleh pemerintah.  Sedangkan di Indonesia, penentuan upah selalu menemui jalan buntu dan berlarut-larut, tidak lupa juga dihiasi aksi demonstrasi.

Upah Batam Tertinggi di Asia Tenggara

Pada 2018, upah di negara Asia Tenggara lainnya lebih rendah dari Batam. Misalnya di Laos sebesar Rp 2.000.000 atau 1,2 Juta Kip. Di Vietnam sebesar Rp 2.415.000 atau 3.980.000 Dong.

Di Myanmar sebesar Rp 1.500.000 atau 144 Kyat. Di Filipina sebesar Rp 2.500.000 atau 9300 Peso. Di Kamboja sebesar Rp 2.150.000 atau 630.000 Riel. Saat itu, upah di Batam capai Rp 3,5 juta dan sekarang sudah Rp 3,8 juta.

“Investor pasti jeli melihat itu (upah pekerja). Kepastian dan profit itu yang paling penting. Sehingga bisa tahu alasannya ke Vietnam,” ungkapnya.

Baca Juga: Batam Diuntungkan, Perang Dagang Perluas Peluang Pasar Ekspor

Dampak perang dagang antara Amerika dan Tiongkok memang berskala global. Dampak negatifnya dapat dilihat dari penurunan volume perdagangan dunia. Imbasnya juga menyebabkan turunnya kinerja ekspor Indonesia sejak akhir tahun lalu.

“Di sisi lain, tensi perang dagang juga memunculkan ketidakpastian di pasar keuangan dunia. Akibatnya memunculkan gejolak arus modal dan fluktuasi nilai tukar,” kata Fadjar.

Sedangkan dampak positifnya justru dapat dilihat Indonesia sebagai peluang. Akibat pengenaan tarif tinggi untuk barang ekspor dari Tiongkok yang masuk ke Amerika, maka produk tekstil dari negeri tirai bambu itu juga terkena imbasnya.

Padahal sebelumnya Tiongkok dikenal sebagai eksportir tekstil terbesar ke Amerika. Kondisi ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk merebut pangsa Tiongkok di pasar Amerika.

“Strategi relokasi pabrik ke negara lain juga memberikan dampak positif. Tentunya hal ini dapat diperoleh jika daya saing produksi di Indonesia lebih baik dari alternatif negara potensial lainnya,” ujarnya.(leo)