batampos.co.id – Perusahaan-perusahaan asal Tiongkok sudah mulai merencanakan relokasi secara besar-besaran ke Asia Tenggara dan India dalam waktu dekat.

“Investor dari Tiongkok berencana relokasi pabriknya ke Asia Tenggara karena imbas dari perang dagang antara Amerika dan Tiongkok,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, Selasa (11/6/2019).

Loading...

Tapi, sayangnya Indonesia belum termasuk dalam rencana besar tersebut. Nikkei Asian Review menyebut 12 perusahaan asal Tiongkok berencana menyerbu Asia Tenggara.
Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain Advanced Technology and Materials dan Jiangsu General Science Technology berencana ke Thailand.

Goertek, Hangzhou Great Star Industrial, KingClean Electric, Lenovo Group, Shenzen H&T Intelligent Control, TCL, , Zhejiang Hailide New Material, Zhejiang Henglin Chair Industry dan Zhejiang Jasan Holding Group berencana ke Vietnam. Sedangkan Zhejiang Chenfeng Technology berencana ke India.

Diluar dari perusahaan asal Tiongkok, perusahaan asal Taiwan, Jepang dan Amerika juga memilih merelokasi pabriknya dari Tiongkok ke Asia Tenggara.

Sampai di sini, Batam baru mendapat satu investor yakni Pegatron. Tapi Pegatron juga berencana membangun pabrik lainnya di India. Investor lainnya dari Taiwan, Compal Electronics justru memilih Vietnam.

Investor asal Jepang, Ricoh lebih memilih ke Thailand. Sedangkan investor asal Amerika Brooks Running lebih memilih ke VIetnam.Investor-investor tersebut merupakan perusahaan besar yang bergerak di berbagai bidang seperti peralatan rumah tangga, chemical, furnitur, tekstil, komputer, sepatu dan lainnya.

Tjaw juga mengaku heran dari sekian banyak nama tersebut, justru hanya sedikit yang melirik ke Batam yang memiliki posisi sangat strategis di Selat Malaka.

“Secara kemudahan berbisnis dan indeks daya saing negara-negara Asean, kita lebih baik dari Vietnam. Tapi pada kenyataannya. Mengapa,” tuturnya.

Berdasarkan data dari Forum Ekonomi Dunia dan Bank Dunia pada tahun ini, Indonesia memang berada dibawah Vietnam soal kemudahan berbisnis, urutan 73 banding 69. Tapi soal indeks daya saing, Indonesia lebih baik, urutan 45 banding 77. (leo)

Loading...