batampos.co.id – Perang dagang yang terus berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok tidak melulu membaca ancaman. Fenomena itu juga menjadi peluang bagi masuknya produk-produk Indonesia sebagai substitusi komoditi kedua negara yang terhambat akibat perang dagang.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, Indonesia harus mengoordinasikan kembali tim negosiasi untuk perjanjian perdagangan internasional. “Itu juga akan kita lakukan dan kita mengambil posisi yang justru melengkapi dari persaingan itu,” ujarnya, Kamis (13/6).

Indonesia, kata dia, sebaiknya mengambil posisi ke industri yang persaingannya relatif tidak ketat. Dengan begitu, produk-produk Indonesia bisa unggul dan masuk ke pangsa pasar. ‘’Kita cari nilai tambah yang negara lain tidak punya,” terangnya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengamini hal tersebut. Enggar mengakui jika peluang mengisi produk yang terdampak perang dagang sangat terbuka. Saat ini pemerintah tengah mengkaji produk-produk apa saja yang bisa ditingkatkan ekspornya.

Sebagai contoh, untuk pasar Tiongkok, Enggar menyebut ada penurunan konsumsi dan pengunjung di kedai kopi asal AS, Starbuck. Sebagai gantinya, Tiongkok membuka kedai-kedai sendiri. ‘’Yang positif, kopinya dari kita (Indonesia), ini bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Pelabuhan Batuampar, Batam.
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Untuk pasar Amerika, Enggar menyebut perang dagang membuat komoditi furniture asal Tiongkok di negeri Paman Sam itu menurun drastis. Enggar menilai, hal itu menjadi peluang bagi produk furniture Indonesia untuk meningkatkan ekspornya ke AS. ‘’Tekstil juga demikian,” imbuhnya.

Sementara itu, Jokowi mengaku sengaja mengundang berbagai pelaku usaha untuk menyerap masukan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan perekonomian.

Seperti diketahui, sebelum bertemu pengurus Apindo dan Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) kemarin, Jokowi bertemu dengan pengurus Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Rabu (12/6).

Jokowi menyebut, lima tahun ke depan, pemerintah ingin mengeluarkan terobosan-terobosan perekonomian yang akan memacu perekonomian nasional. Untuk itu, dunia usaha perlu memberikan masukan.

“Dari sisi regulasi, mungkin bisa revisi undang-undang. Kalau diperlukan, bisa mengeluarkan Perppu, misalnya,” imbuhnya.

Salah satu persoalan yang coba diurai adalah defisit transaksi berjalan maupun defisit neraca perdagangan yang terus terjadi. Dibandingkan negara tetangga di ASEAN, Jokowi menyebut Indonesia sudah tertinggal dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. ‘’Jangan sampai. Sering saya sampaikan di mana-mana, kalah nanti dengan Kamboja, kalah dengan Laos,” tuturnya. (far/oni)