batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam tidak terlalu mengkhawatirkan tutupnya salah satu perusahaan besar seperti PT Foster Electronic di Batamindo. Batam masih dianggap jauh lebih unggul dan lebih kompetitif dibanding pesaingnya dari negara-negara Asia Tenggara.

“Indonesia apalagi Batam banyak memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang tidak dimiliki pesaing,” kata Kepala BP Batam, Edy Putra Irawadi, Jumat (14/6).

Menurut Edy, banyak perusahaan yang bahagia dengan kebijakan yang ada, seperti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78/2015 tentang penetapan upah minimum kerja (UMK).

“Kita punya PP 78 yang menjaga kepastian upah berdasarkan kepentingan pekerja dan perusahaan. Sekarang banyak yang happy dengan kebijakan ini kok,” ujarnya.

Jika ada perusahaan yang hengkang dari Batam untuk mencari upah lebih murah, BP tak akan pernah berniat untuk menahannya. Itu berarti perusahaan tersebut hanya bisa bersaing dari upah murah dan tidak memiliki keunggulan kompetitif lainnya.

“Kalau perusahaan industri yang memang suka pindah-pindah mencari upah murah, kita tak bisa menahan apalagi dengan mengorbankan kesejahteraan pekerja,” tuturnya.

ilustrasi
foto: iman wachyudi / batampos

Ia juga mengungkapkan selama lima bulan berada di Batam, iklim usaha cukup kondusif. Tidak ada demonstrasi besar-besaran. Dan ini menjadi peluang positif untuk menarik investasi.

Foster yang berasal dari Jepang memang sudah merencanakan tutup sejak beberapa tahun lalu. Perusahaan yang bergerak di bidang barang elektronik berupa speaker ini pindah ke Myanmar. Menurut Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, OK Simatupang, kepindahan Foster sangat terpengaruh sekali terhadap peristiwa demonstrasi yang sering terjadi pada tahun 2014

Saat itu, demonstrasi sering terjadi menuntut kenaikan UMK. Sayangnya, aksi tersebut diikuti dengan proses sweeping terhadap para buruh yang tengah bekerja. Imbasnya adalah proses produksi terganggu.

“Ini yang membuat Foster berpikir ulang. Mereka kemudian mencari lokasi lain yang lebih nyaman. Setelah dapat, mereka mengurangi jumlah pekerja dan produksinya. Setelah pabrik di Myanmar ada, mereka proses testing dan commicioning, baru kemudian memindahkan peralatannya dari Batam ke Myanmar,” ucapnya.

Hingga saat ini, Foster hanya menyisakan sekitar 20 pekerja dan rencananya dalam dua bulan kedepan akan tutup total. (leo)