batampos.co.id – Belum terlelap, baru saja rebah. Soekarno merasa di bagian kaki ada yang mengikatnya. Ada yang menindihnya. Malam itu ia rehat di atas dipan darurat, sebuah dipan sempit hanya cukup untuk satu tubuh tergolek tak bergerak, keranda.

Tahun 1982, Soekarno menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang bertugas melayani para pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Soekarno ialah seorang anggota TNI AL. Dari Surabaya ia terbang ke Tanjungpinang lalu menyeberang ke Pulau Galang melalui Sijantung. Jembatan  Barelang belumlah ada, kala itu.

Di Camp Vietnam, masa itu, listrik dialiri dengan genset. Secara umum bila malam gelap gulita kecuali Rumah Sakit PMI. Sebuah rumah sakit yang lengkap, listrik nyala 24 jam.


Malam itu belum lah terlalu larut sekira jam 23.00 Soekarno merasa lelah, tiada ranjang yang bisa ia gunakan untuk merebahkan tubuh. Di bagian sudut rumah sakit ia melihat keranda ditegakkan. Siangnya keranda itu baru saja digunakan untuk mengantar jenazah warga yang meninggal saat dirawat di Rumah Sakit PMI.

“Sudah dicuci, berdiri ditegakkan,” kisah Soekarno.

Pria kelahiran Kediri, Jawa Timur Itu yakin betul ia belum lelap, masih ia dengar kawan-kawannya di luar bilik bercengkerama.

“Aku terik-teriak minta tolong, tapi mereka mengaku tidak mendengar teriakanku,” kisahnya.

Bagi Soekarno Rumah Sakit PMI ialah bagian yang paling berkesan. Di sini ia berdinas, selain, tentu saja, harus berjaga di pos yang telah ditentukan dengan fungsi membantu apabila ada yang sakit dan harus dibantu untuk dibawa ke rumah sakit.

Soekarno berfoto di lokasi RS PMI eks Kamp Vietnam Galang.
foto: batampos.co.id / putut ariyotejo

“Bila berjaga di Galang 2 doanya cuma satu, jangan ada yang sakit dan harus dibawa ke rumah sakit,” kenang pria kelahiran Julu 1943 ini.

Bila malam gelap. Pun tiada kendaraan untuk lalulintas, juga tiada alat komunikasi.

Bila ada yang sakit warga camp akan menuju pos terdekat minat tolong. Petugas jaga akan membantu. Dan jika harus diawa ke rumah sakit, ya harus ditandu.

Jalan kaki.

Camp pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Kota Batam, Indonesia, berakhir pada 1996. Semua penghuni telah ditempatkan ke negara-negara yang mau menerima mereka.

“Diantara pengungsi ada juga yang dokter. Ia dimanfaatkan juga di rumah sakit untuk membantu,” imbuhnya.

11 bulan bertugas di Galang. Soekarno kembali pulang.

Tidak setiap tahun ia datang ke Batam. Namun setiap kali ke Batam ia akan ke Camp Vietnam di Pulau Galang.

Lokasi yang ia kunjungi tentu saja Rumah Sakit PMI yang memang ada di mulut jalan utama bekas kamp pengungsi itu. Ia menjelaskan bagaimana kondisi rumah sakit itu.

Dari penunggu eks kamp pengungsi, Mursidi, Soekarno tahu bangunan yang berdiri, saat ini, ialah replika saja. Bangunan rumah sakit yang asli telah rubuh. Menurut Mursidi, bangunan replika didirikan sebagai tanda saja.

Soerkarno berjumpa Mursidi di Museum yang ada di eks kamp pengungsi itu sekian tahun lalu, kala ia berkunjung.

Menurut Soekarno rumah sakit yang ada sangatlah mewah. Alatnya pun lengkap. Selain melayani warga kamp pengungsi rumah sakit itu pun melayani warga lokal yang tinggal tak jauh dari lokasi kamp pengungsi.

Orang yang meninggal dan diangkut dengan keranda yang ia tiduri tadi bukan pengungsi tetapi warga lokal sekitar kamp.

Gerbang eks kamp pengungsi Vietnam

Tahun ini Soekarno, ke Batam. Kembali ia mengunjungi bekas kamp pengungsi Vietnam. Di pintu masuk yang dijaga anggota Ditpam BP Batam banyak sekali monyet. Jalan masuk ke dalam monyet pun masih banyak berkeliaran di jalan. Dilempari pisang mereka girang. Berebut menyambut pisang yang dilempar.

“Dulu monyet banyak di belakang rumah sakit,” kenangnya sembari menunjuk semak-semak di belakang lokasi bekas rumah sakit PMI. “Tiada yang di jalan. Jalan (kaki, red) Dari Galang 2 ke Galang 1 (lokasi kamp Vietnam dibagi 2 dengan sebutan Galang 1 dan 2, red) juga tidak jumpa dengan monyet.”

Monyet di eks kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang

“Sekarang banyak monyet di jalanan sebab hutan di sekitar sini banyak yang hilang. Jadi monyet lari kemari,” kisah Adenan pegawai BP Batam yang bertugas di eks kamp Vietnam, akhir pekan lalu..

Adenan ialah pria asal Anambas.

Tahun 1987 ia bertugas di kamp pengungsi Vietnam. “Dulu saya bertugas urus listrik bersama Pak Mursidi. Pak Mursidi sendiri meninggal 2010 yang lalu,” urai Adenan.

Pria ini sesekali melayai turis yang datang ke Museum. Memberi beberapa penjelasan kepada mereka. Saat berbincang ia tengah melayani perempuan bule.

“Itu,” ujarnya sembari menunjuk serombongan kecil turis. “Orang Vietnam yang pernah tinggal di sini, makanya ada yang bisa berbahasa Indonesia.”

Menurut Adenan mantan warga Vietnam yang pernah tinggal di kamp pengungsian acap datang ke Galang dalam kelompok kecil.

April lalu, rombongan kecil datang ke Galang. “Mereka membersihkan makam. Bekerjasama dengan kami mereka mencat-ulang makam,” tuturnya.

Kamp pengungsi Vietnam bukan sebuah kamp mengerikan. Kehidupan sosial berjalan di sana.

“Orang Vietnam itu paling suka mengenakan payung. Baik laki maupun perempuan,” kenang Soekarno.

Dari mana mereka mendapat payung?

“Kan ada yang jualan di sini. Yang jualan ya mereka sendiri.”

Pedagang Vietnam itu kulakan barang dagangan dari tanjungpinang.

“Mereka titip pada petugas yang hendak ke Tanjungpinang,” kisah Soekarno.

Satu lagi kenangan Soekarno tentang kamp Vietnam ialah warga pengungsi pandai memasak.

“Aku kenal sayur pakis yang dari mereka,” kenangnya.

Setiap ada perayaan keagamaan mereka, mereka memasak banyak. Untuk semua.

Para pengungsi pun masih bisa berhibur diri. Di kamp ada youth center. Pun mereka bisa bermain ke pantai.

“Naik bukit, lalu ketemu pantai,” kisah Soekarno.

Pantai itu, kini, kita mengenalnya dengan sebutan Pantai Melur.

Bukit yang dimaksud telah hilang ditembus jalan raya menuju Galang Baru. (putut ariyo)

 

Loading...