Sabtu (15/6) lalu, saat menghadiri puncak acara HUT ke-14 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sejahtera Batam di BCS Mall, saya tertarik dengan sambutan Wali Kota Batam, H Muhammad Rudi. Beliau membeberkan program kerjanya yang terukur dan tersistematis.
Sebagai orang baru di Kota Batam, mungkin inilah kepala daerah terkeren yang pernah saya temui. Mampu memaparkan programnya secara detail. Tanpa teks atau contekkan. Dengan sangat serius, saya menyimaknya.

Padahal, sudah di enam kota di Indonesia saya bertugas. Contohnya saja saat saya mudik ke Kaltim pada Lebaran kemarin. Situasinya sama saja.



Dari dua tahun lalu saya meninggalkan Kaltim, jalanan ya begitu-begitu saja. Poros Bontang-Samarinda yang dijuluki jalur tengkorak, masih sempit dan berlubang. Membahayakan siapa saja yang melintas. Samarinda masih saja banjir.

Kembali “gosipin” Rudi. 2025, itulah angka yang dibicarakan. Sebuah tahun. Di mana, itulah tahun saat Batam bisa mencapai puncak kejayaan. Dengan didukung pembangunan infrastruktur yang cepat, rasanya target 2025 tidak mustahil. Bisa direalisasikan.

Yang menarik, Pemko Batam tidak “ngeyel” membangun gedung, mal, atau bangunan pencakar langit. Infrastruktur penunjang yang dibenahi. Yaitu jalan raya. Kalau bangunan dan sejenisnya, biarlah para investor dan pengusaha. Rudi menyebutnya join.

Rudi mengaku terus berkomunikasi dengan investor. Diajaklah mereka membangun Batam. Swasta bikin mal, gedung, dan bangunan. Sementara Pemko bangunkan akses jalan. Sinergi. Bisa jalan bareng. Ending-nya, Batam semakin maju.

Memang, melebarkan jalan di Batam tidak bisa simsalabim. Butuh waktu. Tidak seperti kisah Bandung Bondowoso yang membangun Candi Sewu dalam semalam, demi menunjukkan rasa cintanya kepada Roro Jongrang. Ada prosesnya.

Targetnya, 2025 jalan di Batam lebar. Dari Sekupang, Batuaji, Punggur, hingga Nongsa, jalanan harus lebar. Bertahap. Disesuaikan dengan anggaran. Saking “ngebutnya”, tidak perlu bangun jalan alternatif selama proses pelebaran jalan dilakukan.

Bukan tanpa alasan. Kalau buat jalan alternatif, harus keluar duit lagi. Sayang. Mending konsentrasi pada pelebaran. Toh, jalan alternatif di Batam sudah banyak. Dari yang kecil dan lebar ada.

Pada kesempatan itu, Rudi sempat meminta maaf kepada masyarakat Batam karena akibat proses pelebaran jalan, arus lalu lintas menjadi terganggu.

Tapi menurut saya tidak perlu. Rudi tidak harus minta maaf. Karena memang tujuannya baik. Justru saya sebagai masyarakat sangat berterima kasih jalan di Batam dibesarkan. Kalau jalan di Batam lebar, investor tertarik. Hasilnya, ekonomi membaik. Batam memiliki daya saing. Mampu bersaing dengan Singapura.

Pola join antara pemerintah dengan swasta ini merupakan strategi jitu. Semua terlibat dalam membangun Batam. Saling support. Sama-sama memiliki peran. Tinggal kepintaran dan strategi kepala daerah saja.

Saya punya pendapat pribadi. Jika seluruh jalanan di Batam lebar, insya Allah mau mengembangkan potensi daerah akan mudah. Mau mengembangkan sektor ekonomi, pariwisata, atau sektor manapun, tinggal pilih lokasinya.

Kita sama-sama tahu, anggaran negara tidak akan cukup meng-cover semua pembangunan. Harus ada kerja sama. Bahkan, pemko juga sudah membentuk Forum Tanggungjawab Sosial Perusahaan (TSP). Bagi perusahaan yang ingin menyalurkan corporate social responsibility (CSR), bisa lewat lembaga itu.

Di TSP, Anda bisa memilih mau bangun apa, mau sumbang apa, atau mau ngapain. Tercatat dengan jelas, lengkap dengan biayanya. Tidak hanya fisik, nonfisik juga ada. Seperti pelatihan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan lainnya.
Saya berharap, hingga 2025 nanti masih bertugas di Batam. Saya ingin melihat dengan mata-kepala sendiri, program nyata Rudi. Biar enggak penasaran. Saya ingin mengendarai mobil keliling Batam demi merasakan jalan yang lebar.

Apa yang dilakukan Rudi dan timnya di pemko harus kita dukung. Kita dorong pemerintah merealisasikan programnya. Demi menuju 2025 yang hebat.

Saya jadi penasaran, bagaimana wajah Batam tahun 2025 mendatang. Kita tunggu. (*)

Loading...