batampos.co.id – Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah atau Masjid Agung Batam (MAB) II yang berlokasi di Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji, Batam rencananya akan diresmikan pada 20 September 2019 mendatang.

Pada prosesnya pengerjaan masjid yang luas ruang solatnya berada di urutan keempat di Indonesia ini sudah berjalan sekitar 80 persen.

Ditemui dalam kunjungannya ke masjid ini pada Senin (17/6/2019) sore, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi menuturkan kisah dibalik semangatnya menghadirkan tempat ibadah di lokasi yang didominasi industri galangan kapal itu.

Saat mengunjungi salah satu kawasan di Kecamatan Batu Aji di pada 2011 lalu, Rudi yang saat itu masih menjabat Wakil Wali Kota Batam menemukan kenyataan yang menyentuh hatinya.

Para pekerja menyusun rangka kubah Masjid Sultan Mahmud Riayadsyah. Peresmian Masjid Agung Batam II ini akan dihadiri Ustad Abdul Somad dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Ia bertemu dengan para pekerja di galangan kapal yang tengah berada di salah satu masjid di lokasi tersebut. Anehnya lanjut Rudi, para pekerja belum menunaikan ibadan salat zuhur kembali mengenakan sepatu safety milik mereka untuk kembali bekerja.

Baca Juga: Ustad Abdul Somad dan Wakil Presiden Hadiri Peresmian Masjid Agung Batam II 

“Ternyata waktu istirahat mereka (pekerja) telah habis, mereka berada di antara dua pilihan. Kalau jadwal salat masih sesuai dengan jam istirahat, mereka bisa salat,” katanya.

“Tapi kalau jadwalnya tidak sesuai, maka mereka akan memilih antara salat dengan menafkahi keluarganya di rumah,” kata Rudi.

Saat itu, Rudi mengaku terus berfikir untuk menghadirkan solusi bagi para pekerja di lokasi tersebut. Salah satunya adalah membangun masjid.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi (tengah) menjelaskan latar belakang pembangunan Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah. Foto: Bobi/batampos.co.id

Masjid yang dibangun lanjutnya bukan hanya untuk tempat ibadah tapi juga dapat menjadi daya tarik baru bagi warga Kota Batam dan masyarakat yang berkunjung ke Kota Batam.

AKhirnya, terbangunnya masjid yang diberi nama Mahmud Riayat Syah. Masjid yang telah menelan biaya Rp 260 miliar itu tidak hanya menjadi temat beribadah saja.

Tapi juga akan menjadi pusat pembelajaran islam dan wadah ekonomi bagi masyarakat.

Sesuai dengan latarbelakang pembuatanya, masjid itu nantinya akan mendasari kebijakannya untuk mendukung aktivitas pekerja untuk beribadah di sini.

Baca Juga: Masjid Agung Mahmud Riayatsyah di Batam, Sebuah Kebijakan Bersejarah

Mengatur agar waktu-waktu dimana ketika jadwal salat yang beririsan tipis dengan dengan jadwal istirahat para pekerja, agar waktu iqomahnya dipercepat.

Demikian juga ketika hari Jumat, durasi khotbah jumat juga diharapkan bisa menyesuaikan dengan waktu istirahat para pekerja.

“Jadwal salat itukan berbeda-beda, ada waktunya cepat ada juga agak lambat, jadi kalau pas lambat itu khotbah Jumat cukup 10 menit saja, kita sesuaikan,” kata Rudi lagi.(bbi)