batampos.co.id – Sebanyak 43 warga pulau dan kampung tua di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau mengikuti Pelatihan Manajemen Homestay atau rumah wisata berbasis masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan, pelatihan tersebut digelar selama tiga hari mulai Selasa (18/6/2019) hingga Kamis (20/6/2019).
Menurutnya, peserta terdiri dari 5 warga Batubesar, 10 warga Kampung Kelembak, 7 warga Ngenang, dan 1 orang dari Nongsa Pantai Kecamatan Nongsa.
Kemudian dari warga Sembulang, Kecamatan Galang 6 orang dan 1 warga Pulau Abang.
Selanjutnya dari Setokok Kecamatan Bulang sebanyak 7 orang, dan dari Kecamatan Belakangpadang 6 orang.

“Pada hari pertama peserta mendapatkan materi dari Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Kepulauan Riau, Irwandi Azwar,” katanya, Rabu (19/6/2019).
Kemudian di hari kedua, dua narasumber dari Kementerian Pariwisata akan mengisi pelatihan.
“Kamis turun ke lapangan. Langsung praktik di lapangan. Rencananya di dua kelurahan. Nongsa di Kelembak, dan di Sekanak Raya Belakangpadang,” timpal Ketua Panitia pelatihan, Risi.
Ardiwinata, mengatakan, pelatihan ini adalah keinginan bersama baik dari dinasnya maupun dari warga. Karena lanjuta dia, homestay diharapkan bisa menjadi salah satu kekuatan pariwisata di Kota Batam.
“Homestay ini salah satu kekuatan kita ke depan. Berpotensi untuk dikembangkan. Sudah ada tapi perlu di-maintain (dipelihara) dengan baik,” ujarnya.
Kata dia, pengembangan homestay tak hanya pada pengelolaan rumah warga menjadi tempat tinggal wisatawan.
Tapi juga bagaimana lingkungan sekitar bisa menyiapkan kegiatan yang menarik bagi turis.
“Karena itu dalam pengembangan homestay tak bisa dilakukan perorangan melainkan dalam bentuk kelompok,” ujarnya.
“Kegiatan yang menarik bagi wisatawan misalnya pembuatan kerajinan tangan, memasak makanan khas melayu seperti asam pedas, atau membuat kue tradisional misalnya putu piring,” tambahnya.
Atau bisa juga mengajak wisatawan pergi memancing layaknya seperti nelayan.
“Silakan bertanya pada narasumber. Bagaimana dibuat rumah itu supaya menjadi bernilai,” paparnya kepada apra peserta.
Pihaknya berharap pelatihan tersebut benar-benar sesuai standar yang baik.
“Setelah pelatihan ini pun silakan untuk berkomunikasi lebih intens,” sebutnya.
Ardi mengatakan bantuan yang diberikan ke warga tak sebatas pada pelatihan manajemen.
Tapi juga fasilitasi pada pendanaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pariwisata. Kredit dengan bunga rendah ini juga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk pembuatan homestay.
“Kita bantu, saya kasih rekomendasi. Nanti bisa kerjasama dengan Asita untuk mendatangkan kunjungan dan sebagainya,” kata Ardi.
Pada kesempatan tersebut ia menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pariwisata. Karena kegiatan pelatihan ini bisa berjalan berkat aliran Dana Alokasi Khusus (DAK) non fisik.
Selain pelatihan manajemen homestay, DAK 2019 ini juga akan digunakan untuk pelatihan bagi pemandu wisata.(une)
